Teror Air Keras Aktivis KontraS – tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengungkap temuan penting terkait dugaan aksi teror penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Dalam konferensi pers yang di gelar di Jakarta pada Kamis, 9 April 2026, perwakilan TAUD membeberkan identifikasi terhadap 16 individu yang di duga terlibat dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Ravio Putra, selaku anggota TAUD, menjelaskan bahwa identifikasi para terduga pelaku di dasarkan pada hasil analisis rekaman kamera pengawas (CCTV), pengumpulan informasi lapangan, serta investigasi mendalam dari berbagai sumber. Para individu tersebut di sebut sebagai orang tak di kenal (OTK) dengan peran berbeda dalam operasi yang di duga telah di rencanakan secara sistematis.
Dua Sosok Kunci Diduga Berperan Vital dalam Eksekusi
Dalam pemaparannya, TAUD menyoroti dua individu yang di duga memiliki peran utama dalam peristiwa tersebut. Sosok pertama adalah seorang perwira militer dari Angkatan Laut yang di identifikasi sebagai Budi Haryanto Widhi Cahyono. Nama ini sebelumnya sempat menimbulkan kebingungan publik akibat perbedaan penyebutan inisial oleh berbagai pihak.
Sosok kedua berinisial MAK, yang di duga sebagai pelaku utama penyiraman air keras. Berdasarkan hasil penelusuran, MAK di yakini merujuk pada Muhammad Akbar Quddus, seorang anggota militer aktif. Kedua individu ini di sebut memiliki mobilitas tinggi di sejumlah titik strategis di Jakarta, termasuk Panglima Polim, Sudirman, hingga kawasan Salemba.
Peran Pengintai dan Pemantau dalam Operasi Terstruktur
Selain dua sosok utama, TAUD juga mengidentifikasi sejumlah individu lain yang di duga bertugas sebagai pengintai dan pemantau situasi. Beberapa di antaranya di beri julukan berdasarkan ciri fisik atau pakaian yang terlihat dalam rekaman CCTV.
Misalnya, sosok yang di sebut “Abang Gojek” di duga menggunakan atribut ojek online sebagai bentuk penyamaran untuk memantau pergerakan target. Sementara itu, individu lain seperti “Kumis Bleki” dan “Yankee Brewok” di yakini memiliki peran serupa dalam mengamati situasi di lapangan.
Ada pula sosok “Flanel Pitak” yang di duga bekerja sama dengan pihak lain dalam mengoordinasikan pemantauan di beberapa titik, termasuk kawasan Taman Diponegoro dan Halte Megaria.

Aktivis dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengungkapkan 16 sosok yang di duga ikut melakukan penyerangan terhadap Andrie Yunus.
Indikasi Keterlibatan Jaringan yang Lebih Luas
Lebih lanjut, TAUD mengungkap adanya indikasi keterlibatan jaringan yang lebih luas dalam peristiwa ini. Sejumlah individu lain seperti “Hoodie Abu-Abu”, “Parasut Dongker”, dan “Cepak Otot” di sebut turut berperan dalam pengintaian dan mobilisasi di sekitar lokasi kejadian.
Beberapa dari mereka terlihat beroperasi secara berkelompok dan saling berkoordinasi. Seperti yang di tunjukkan oleh rekaman CCTV yang memperlihatkan pergerakan bersama di kawasan Jalan Mendut dan sekitarnya.
Selain itu, terdapat pula individu dengan peran spesifik seperti “Botak Polo” yang di duga bertindak sebagai koordinator lapangan. Kehadiran sosok ini menunjukkan adanya struktur komando dalam pelaksanaan aksi tersebut.
Pola Operasi Terencana dan Penghindaran Identifikasi
TAUD juga menyoroti pola operasi yang di nilai terorganisir dengan baik. Beberapa individu tampak berupaya menghindari identifikasi, seperti sosok “Hitam Khaki” yang secara konsisten menutupi wajahnya saat berada di area dengan kamera pengawas.
Sementara itu, individu lain seperti “Jaket Biru” dan “Helm Kuning” di duga berperan dalam pengawasan tambahan di lokasi-lokasi tertentu. Salah satu dari mereka bahkan di duga merupakan warga sipil berdasarkan kendaraan yang di gunakan.
Seluruh individu ini di ketahui beroperasi di sejumlah titik penting di Jakarta, termasuk Jalan Diponegoro, Jalan Kimia, dan kawasan Cikini, yang menjadi lokasi krusial dalam rangkaian kejadian.
TAUD Dorong Pengusutan Tuntas dan Transparan
Dengan adanya temuan ini, TAUD mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan transparan. Mereka menilai bahwa kasus ini tidak hanya melibatkan pelaku lapangan, tetapi juga kemungkinan adanya aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.
TAUD menegaskan pentingnya pengungkapan identitas seluruh pihak yang terlibat guna memastikan keadilan bagi korban serta menjaga integritas penegakan hukum di Indonesia.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik karena menyangkut isu keamanan aktivis dan kebebasan sipil. Yang di nilai harus mendapatkan perlindungan maksimal dari negara.