Sate maranggi di kenal sebagai salah satu kuliner khas Jawa Barat yang memiliki karakter rasa manis dan gurih. Hidangan ini umumnya di asosiasikan dengan daerah Purwakarta serta kawasan Bogor hingga Cianjur. Namun demikian, perkembangan dunia kuliner membuat sajian tradisional ini semakin mudah dijumpai di wilayah perkotaan, termasuk Depok.

Salah satu kawasan yang kini menjadi tujuan baru pencinta sate maranggi adalah Depok II. Di area ini, hadir sebuah rumah makan yang menawarkan konsep sate maranggi dengan kualitas bahan premium, yaitu Sate Maranggi Mas Kulin. Kehadirannya memberikan alternatif bagi masyarakat yang ingin menikmati sate maranggi tanpa harus bepergian ke daerah asalnya.

Perjalanan Awal Usaha Kuliner Keluarga

Pada dasarnya, Sate Maranggi Mas Kulin berakar dari pengalaman panjang di dunia kuliner. Pemilik usaha, Don, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki usaha katering sejak era 1970-an. Usaha tersebut sempat berjalan di beberapa kota besar sebelum akhirnya berhenti pada awal tahun 2000-an.

Selanjutnya, masa pandemi Covid-19 menjadi momentum refleksi bagi Don untuk kembali terjun ke dunia kuliner. Dengan bekal pengetahuan tentang bumbu dan teknik memasak yang telah ia pelajari sejak kecil, ia memutuskan untuk membuka rumah makan dengan konsep yang lebih fokus dan spesifik.

Pemilihan Sate Maranggi sebagai Identitas Utama

Di sisi lain, keputusan memilih sate maranggi sebagai menu utama di dasarkan pada kedekatan personal. Sate maranggi merupakan hidangan favorit keluarga Don. Bahkan, sebelum membuka usaha, ia rutin mencicipi sate maranggi dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Dari pengalaman tersebut, Don memperoleh banyak referensi rasa. Kemudian, ia mulai meramu resep sendiri dengan menyesuaikan karakter rasa yang di inginkan. Proses ini memerlukan waktu cukup panjang karena resep mengalami puluhan kali penyesuaian hingga mencapai standar yang di anggap layak untuk di pasarkan.

Sate Maranggi Viral di Depok yang Empuk Manisnya Juara ( Source : Google )

Standar Bahan Baku dan Konsistensi Kualitas

Selain resep, kualitas bahan menjadi perhatian utama. Don memilih menggunakan daging sapi bagian has dalam atau tenderloin yang di kenal memiliki tekstur empuk. Namun, penggunaan bagian ini menghadirkan tantangan tersendiri karena jumlahnya terbatas pada setiap ekor sapi.

Sementara itu, untuk bagian lemak, di gunakan lemak sapi impor yang berasal dari sapi grass-fed. Pemilihan ini bertujuan menghasilkan tekstur lemak yang lebih juicy serta rasa yang bersih. Dengan demikian, standar kualitas bahan tetap terjaga meskipun kebutuhan produksi cukup tinggi.

Proses Marinasi dan Teknik Penyajian

Selanjutnya, proses marinasi menjadi tahap penting dalam pengolahan sate maranggi. Daging di marinasi selama beberapa jam agar bumbu dapat meresap secara optimal. Proses ini dilakukan dengan metode pendinginan khusus yang tidak membekukan daging.

Durasi marinasi di sesuaikan dengan kondisi penjualan harian. Semakin lama di marinasi, tekstur daging akan semakin empuk. Setelah itu, sate di bakar hanya ketika ada pesanan masuk sehingga pelanggan selalu mendapatkan sajian yang segar.

Variasi Menu dan Cita Rasa yang Ditawarkan

Sate Maranggi Mas Kulin menyajikan sate dalam satu porsi berisi tujuh tusuk lengkap dengan acar dan pilihan sambal. Pelanggan dapat memilih sambal kecap, sambal oncom, atau sambal matah sesuai selera. Harga yang di tawarkan pun bervariasi, tergantung pada komposisi daging dan lemak.

Selain sate sapi, tersedia pula pilihan sate ayam dengan harga lebih terjangkau. Sebagai pelengkap, pengunjung dapat menambahkan nasi daun jeruk yang harum atau ketan bakar untuk melengkapi pengalaman bersantap.

Penutup

Secara keseluruhan, Sate Maranggi Mas Kulin menghadirkan inovasi kuliner tradisional dengan pendekatan kualitas dan konsistensi rasa. Kehadirannya di Depok II membuktikan bahwa kuliner khas daerah dapat berkembang dan diterima di wilayah perkotaan. Dengan perpaduan bahan premium, teknik pengolahan yang terkontrol, serta cita rasa autentik, sate maranggi tetap relevan di tengah persaingan kuliner modern.