Upaya pencarian terhadap pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang di laporkan hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan terus di lakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan. Pesawat tersebut terakhir terdeteksi berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang mencakup wilayah Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Maros. Kondisi geografis kawasan ini yang di dominasi pegunungan karst dengan medan terjal menjadikan proses pencarian membutuhkan strategi khusus serta keterlibatan berbagai unsur pendukung.

Sejak di nyatakan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, operasi pencarian dan pertolongan di lakukan secara terpadu dengan mengerahkan sumber daya manusia, teknologi, serta sarana transportasi darat dan udara. Pendekatan terintegrasi ini di nilai penting untuk meningkatkan efektivitas pencarian sekaligus meminimalkan risiko bagi personel yang terlibat.

Keterlibatan Tim SAR Gabungan dan Peningkatan Personel

Jumlah personel yang di kerahkan dalam operasi pencarian mengalami peningkatan signifikan. Pada tahap awal, operasi melibatkan sekitar 170 personel, namun dalam waktu singkat jumlah tersebut bertambah menjadi 476 orang. Personel berasal dari berbagai instansi, antara lain TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah, serta unsur relawan dan mahasiswa yang tergabung dalam potensi SAR di Sulawesi Selatan.

Keterlibatan lintas sektor ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas operasi di lapangan. Setiap unsur memiliki peran dan fungsi yang saling melengkapi, mulai dari pencarian darat, pemetaan wilayah, pengamanan, hingga dukungan logistik. Sinergi antarinstansi menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan medan yang sulit dan luasnya area pencarian.

Dukungan Sarana dan Prasarana Operasi Pencarian

Selain personel, berbagai sarana dan prasarana di kerahkan untuk mendukung operasi pencarian. Kendaraan operasional seperti truk dan kendaraan taktis di gunakan untuk mobilisasi personel dan peralatan menuju titik-titik sektor pencarian. Di sisi lain, dukungan udara menjadi elemen krusial mengingat keterbatasan akses darat di kawasan pegunungan.

Helikopter di gunakan untuk melakukan penyisiran udara, khususnya pada koordinat-koordinat yang telah di petakan sebelumnya. Penyisiran udara di jadwalkan dilakukan sejak pagi hari untuk memaksimalkan visibilitas dan memanfaatkan kondisi cuaca yang relatif lebih stabil. Pendekatan ini memungkinkan tim SAR memperoleh gambaran awal kondisi medan serta potensi lokasi pesawat.

Tim SAR gabungan melakukan operasi pencarian pesawat ATR 42-500 di kawasan karst Sulawesi Selatan

Tim SAR gabungan yang mencari pesawat hilang kontak di Maros

Pembagian Sektor Pencarian di Kawasan Gunung Bulusaraung

Untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pencarian, wilayah operasi di bagi ke dalam lima sektor utama. Pembagian sektor ini memungkinkan proses pencarian dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi. Setiap sektor di tangani oleh tim yang telah di entukan dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Salah satu tim khusus di tugaskan menuju puncak Gunung Bulusaraung sebagai tim aju. Tim ini bertugas melakukan asesmen awal dengan memanfaatkan teknologi drone. Penggunaan drone menjadi solusi strategis untuk memantau area jurang dan lereng curam yang berisiko tinggi bagi keselamatan personel apabila di jangkau secara langsung.

Hasil pemantauan udara digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan lanjutan, termasuk penentuan metode evakuasi yang paling aman. Hingga tahap ini, kemungkinan penggunaan teknik tali untuk menjangkau dasar jurang masih terus di kaji berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

Sistem Komunikasi dan Teknologi Pendukung Lapangan

Aspek komunikasi menjadi faktor penting dalam kelancaran operasi pencarian. Tim SAR menggunakan perangkat radio komunikasi (HT) yang di perkuat dengan pemasangan repeater di lokasi strategis. Selain itu, perangkat komunikasi berbasis satelit juga di siapkan sebagai sistem cadangan untuk mengantisipasi keterbatasan sinyal di wilayah pegunungan.

Penggunaan teknologi komunikasi yang andal memungkinkan koordinasi antar sektor berjalan efektif, mempercepat pertukaran informasi, serta meningkatkan keselamatan personel. Keberadaan sistem komunikasi cadangan juga menjadi langkah mitigasi risiko apabila terjadi gangguan jaringan utama.

Kronologi Hilangnya Kontak Pesawat dan Data Penumpang

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di ketahui melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat lepas landas pada pagi hari dengan estimasi waktu tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekitar tengah hari. Namun, saat memasuki fase pendekatan pendaratan, pesawat mengalami penyimpangan jalur dan tidak lagi merespons komunikasi dari petugas pengatur lalu lintas udara.

Upaya pemanggilan melalui berbagai saluran komunikasi telah dilakukan, namun tidak mendapatkan respons. Pesawat kemudian di nyatakan hilang kontak. Di dalam pesawat terdapat delapan orang kru yang terdiri dari pilot, kopilot, awak teknis, dan awak kabin, serta tiga penumpang yang merupakan pegawai instansi pemerintah. Seluruh data kru dan penumpang telah di konfirmasi dan menjadi dasar utama dalam pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan yang masih terus berlangsung hingga saat ini.