Perjuangan Pedagang Kecil – pagi hari di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor, masih di selimuti udara dingin yang menusuk. Saat sebagian orang masih terlelap, Sudrajat sudah bersiap menjalani rutinitas yang sama seperti puluhan tahun sebelumnya. Usianya yang tidak lagi muda membuat setiap langkah terasa lebih berat, namun tuntutan hidup tidak memberi ruang untuk berhenti. Bagi Sudrajat, bekerja bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban demi keberlangsungan keluarga.
Sebagai kepala keluarga dengan lima orang anak, Sudrajat menggantungkan penghidupan dari berjualan es kue jadul. Aktivitas ini telah ia jalani selama kurang lebih tiga dekade. Setiap pagi, ia meninggalkan rumah sederhananya dengan membawa boks sterofoam berisi ratusan potong es, simbol tanggung jawab yang ia pikul sebagai tulang punggung keluarga.
Aktivitas Harian Pedagang Es Kue Jadul
Perjalanan Sudrajat di mulai dari Depok, tempat ia mengambil es kue dari produsen. Sekitar 150 potong es kue di masukkan ke dalam boks besar yang kemudian ia bawa berjalan kaki. Dari Depok, Sudrajat menempuh perjalanan panjang menuju sejumlah wilayah di Jakarta seperti Kemayoran, Sentiong, hingga kawasan Kota Tua. Jarak puluhan kilometer di tempuh setiap hari dengan berjalan kaki, tanpa keluhan, meski fisik kian melemah.
Es kue jadul yang di jualnya di hargai Rp2.500 per potong. Dari harga tersebut, keuntungan bersih yang di peroleh sekitar Rp1.500. Jika seluruh dagangan habis terjual, pendapatan hariannya bisa mencapai kurang lebih Rp200 ribu. Namun hasil tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca dan keramaian pembeli. Hujan sering kali menjadi penghalang utama karena menurunnya minat masyarakat untuk membeli jajanan dingin.
Tuduhan Penjualan Produk Berbahaya
Rutinitas panjang yang selama ini berjalan tanpa hambatan berubah drastis ketika Sudrajat menghadapi tuduhan serius. Di salah satu lokasi berjualan di Kemayoran, ia di tuding menjual es kue yang di duga mengandung bahan berbahaya. Tuduhan tersebut datang dari warga dan berujung pada keterlibatan aparat setempat.
Bagi Sudrajat, tuduhan itu menjadi pukulan berat, baik secara mental maupun emosional. Selama puluhan tahun berdagang, ia mengaku belum pernah menghadapi situasi serupa. Upaya menjelaskan bahwa dirinya hanya pedagang yang mengambil barang dari produsen tidak mendapat respons yang memadai. Dalam kondisi tertekan, Sudrajat harus menjalani pemeriksaan oleh aparat keamanan.

Sudrajat Penjual Es Kue Jadul Di tuduh Berjualan Bahan Spons
Kekerasan dan Trauma yang Ditinggalkan
Tekanan yang di alami Sudrajat tidak berhenti pada pemeriksaan verbal. Ia mengaku mengalami tindakan kekerasan fisik berupa pukulan dan tendangan. Tubuhnya yang sudah tidak muda menjadi sasaran perlakuan kasar yang meninggalkan luka fisik dan trauma psikologis. Ia sempat di tahan di sebuah ruangan kecil sebelum akhirnya di bawa ke kantor kepolisian.
Setelah melalui proses panjang hingga dini hari, pihak kepolisian memastikan bahwa es kue yang di jual Sudrajat tidak mengandung bahan berbahaya. Ia baru di perbolehkan pulang menjelang pagi dalam kondisi kelelahan fisik dan batin.
Dampak Psikologis dan Perubahan Rencana Hidup
Peristiwa tersebut meninggalkan bekas mendalam bagi Sudrajat. Trauma membuatnya berpikir ulang untuk kembali berjualan keliling dengan membawa boks es di pundak. Ia mulai mempertimbangkan alternatif usaha yang lebih aman dan tidak menuntut fisik berat, seperti berjualan gorengan di sekitar rumah.
Saat ini, Sudrajat tinggal di rumah yang sedang di renovasi melalui program bantuan rumah tidak layak huni dari pemerintah daerah. Di tengah keterbatasan dan luka batin, ia berusaha menata kembali harapan hidupnya.