Fenomena Tired but Wired – Pernahkah seseorang merasakan kondisi tubuh yang sangat lelah setelah menjalani aktivitas seharian, namun justru mengalami kesulitan tidur ketika malam tiba? Kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan dan frustrasi karena secara fisik tubuh membutuhkan istirahat, tetapi pikiran seolah terus aktif. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah tired but wired, yaitu keadaan ketika tubuh merasa kelelahan namun sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga.
Kondisi tired but wired sering dikaitkan dengan gangguan pada jam biologis tubuh atau irama sirkadian. Irama sirkadian merupakan sistem internal tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun selama 24 jam. Ketika ritme ini terganggu, tubuh dapat mengalami kesulitan untuk menentukan waktu yang tepat dalam beristirahat, meskipun tingkat kelelahan sudah tinggi.
Gangguan jam biologis tidak hanya berdampak pada kualitas tidur, tetapi juga berpengaruh terhadap konsentrasi, suasana hati, serta kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang konsisten untuk mengembalikan fungsi alami irama sirkadian agar tubuh dapat beristirahat secara optimal.
Pentingnya Konsistensi Waktu Tidur dan Bangun
Salah satu langkah paling mendasar dalam mengatur ulang jam biologis adalah menjaga konsistensi waktu tidur dan bangun. Tubuh manusia bekerja dengan pola yang berulang, sehingga perubahan jadwal tidur yang tidak teratur dapat membingungkan sistem internal.
Dengan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan, otak akan lebih mudah mengenali pola tersebut. Konsistensi ini membantu mengatur pelepasan hormon melatonin, yaitu hormon yang berperan penting dalam proses tidur. Ketika jadwal tidur stabil, tubuh secara alami akan merasa mengantuk pada waktu yang sama setiap malam dan terjaga di pagi hari tanpa rasa berat.
Peran Cahaya Matahari dalam Mengatur Ritme Sirkadian
Paparan cahaya merupakan faktor utama yang memengaruhi jam biologis manusia. Cahaya matahari pagi memberikan sinyal kuat kepada otak bahwa hari telah di mulai. Sinyal ini membantu menghentikan produksi melatonin dan meningkatkan kewaspadaan.
Sebaliknya, pada malam hari, pencahayaan yang terlalu terang dapat menghambat proses alami tubuh untuk bersiap tidur. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk mendapatkan sinar matahari di pagi hari serta mengurangi intensitas cahaya pada malam hari dapat membantu tubuh mengenali peralihan waktu dari aktif ke istirahat secara lebih alami.

Mengantuk seharian tapi sulit tidur malam? Fenomena tired but wired bisa terjadi karena jam biologis kacau. Ini cara melatihnya kembali.
Dampak Paparan Cahaya Biru terhadap Kualitas Tidur
Perkembangan teknologi telah meningkatkan paparan cahaya biru, terutama dari perangkat elektronik seperti ponsel, tablet, dan komputer. Cahaya biru di ketahui dapat menekan produksi melatonin secara signifikan, sehingga tubuh tetap berada dalam kondisi terjaga.
Kebiasaan menggunakan perangkat elektronik sebelum tidur dapat memperburuk kondisi tired but wired. Oleh karena itu, di sarankan untuk membatasi penggunaan gawai setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum waktu tidur. Mengganti aktivitas tersebut dengan kegiatan yang lebih menenangkan dapat membantu tubuh bertransisi menuju fase istirahat.
Pengaruh Pola Konsumsi terhadap Jam Tidur
Asupan makanan dan minuman juga berperan penting dalam kualitas tidur. Kafein, yang tidak hanya terdapat pada kopi tetapi juga teh dan cokelat, dapat bertahan dalam tubuh selama beberapa jam. Konsumsi kafein pada sore atau malam hari berpotensi mengganggu kemampuan tubuh untuk tidur.
Selain itu, makan dalam porsi besar menjelang waktu tidur dapat membebani sistem pencernaan. Kondisi ini membuat tubuh tetap aktif ketika seharusnya memasuki fase pemulihan. Oleh sebab itu, mengatur waktu dan jenis konsumsi merupakan langkah penting dalam menjaga keseimbangan jam biologis.
Pendekatan Perilaku untuk Mengatasi Sulit Tidur
Ketika seseorang telah berbaring di tempat tidur namun tidak juga tertidur setelah sekitar 20 menit, memaksakan diri untuk tidur justru dapat menimbulkan stres. Dalam kondisi ini, di sarankan untuk meninggalkan tempat tidur sementara dan melakukan aktivitas ringan yang tidak merangsang, seperti membaca buku fisik atau mendengarkan musik dengan pencahayaan redup.
Pendekatan ini bertujuan agar otak tidak mengasosiasikan tempat tidur dengan rasa gelisah atau terjaga. Tempat tidur seharusnya menjadi isyarat bagi tubuh untuk beristirahat, bukan sebagai sumber tekanan mental.
Upaya Bertahap dalam Menata Ulang Jam Biologis
Mengatur ulang jam biologis bukanlah proses instan. Di butuhkan kesabaran dan konsistensi dalam menerapkan kebiasaan tidur yang sehat. Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membantu tubuh keluar dari siklus kelelahan tanpa tidur yang berkualitas.
Dengan menjaga ritme sirkadian tetap seimbang, tubuh memiliki kesempatan untuk beristirahat secara optimal, sehingga aktivitas di siang hari dapat di jalani dengan kondisi fisik dan mental yang lebih segar.