Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) terhadap kecelakaan pesawat ATR 42-500. Dengan nomor registrasi PK-THT di wilayah lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, memasuki hari keenam pelaksanaan. Kegiatan ini dilakukan sebagai respons terhadap insiden kecelakaan udara yang terjadi di kawasan pegunungan dengan kondisi medan yang ekstrem dan sulit di jangkau. Hingga hari keenam, fokus utama operasi masih di arahkan pada upaya pencarian korban kecelakaan secara menyeluruh dan terkoordinasi.

Wilayah Gunung Bulusaraung di kenal memiliki kontur curam, vegetasi lebat, serta keterbatasan akses jalur darat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh unsur yang terlibat dalam operasi SAR, sehingga di perlukan perencanaan matang, disiplin lapangan, dan koordinasi lintas instansi yang kuat.

Keterlibatan Tim Gabungan dalam Operasi SAR

Pelaksanaan operasi SAR melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur, antara lain Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), relawan mahasiswa pecinta alam (Mapala), Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI), serta masyarakat lokal. Sinergi antar unsur ini menjadi kunci utama dalam mendukung efektivitas pencarian di wilayah yang memiliki risiko tinggi.

Setiap pagi sebelum pelaksanaan pencarian, seluruh personel mengikuti apel kesiapan yang di laksanakan di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci. Apel ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, menyampaikan evaluasi lapangan, serta memberikan arahan teknis demi menjaga keselamatan personel dan optimalisasi pencarian.

Strategi Penyisiran dan Penggunaan Teknologi Navigasi

Dalam pengarahan operasional, pimpinan lapangan menekankan pentingnya penggunaan perangkat navigasi global positioning system (GPS) selama proses penyisiran. Pengaktifan GPS di nilai krusial untuk memastikan setiap temuan dapat di tandai secara akurat dan di laporkan ke posko utama. Dengan sistem pemetaan ini, tim koordinasi dapat mengarahkan unit terdekat untuk melakukan tindak lanjut secara efisien.

Strategi penyisiran di fokuskan pada area yang belum sepenuhnya terjangkau, khususnya wilayah lereng gunung yang sebelumnya di temukan puing-puing pesawat. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada titik yang terlewat, mengingat kemungkinan korban atau bagian pesawat tersebar akibat benturan keras saat kecelakaan terjadi.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, di tengah medan hutan pegunungan yang terjal.

Ilustrasi : Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan melakukan penyisiran di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Prosedur Penanganan Temuan di Lapangan

Prosedur penanganan temuan di lapangan di atur secara ketat guna menjaga efektivitas operasi. Tim pencari di arahkan agar tidak terfokus pada proses evakuasi saat menemukan korban atau benda terkait kecelakaan. Temuan berukuran kecil, seperti serpihan pesawat atau bagian tubuh, di perbolehkan untuk di bawa dengan pengemasan yang aman. Sementara itu, temuan berukuran besar atau jenazah di laporkan dan di beri tanda khusus untuk di evakuasi oleh tim yang memiliki peralatan memadai.

Pendekatan ini di terapkan agar proses pencarian tidak terhenti di satu titik, mengingat luasnya area operasi dan keterbatasan waktu serta sumber daya. Dengan sistem penandaan dan pelaporan yang terstruktur, alur kerja tim SAR dapat berjalan lebih terkoordinasi dan terukur.

Fokus Pencarian di Area Lereng Gunung

Perluasan wilayah pencarian di lakukan berdasarkan hasil evaluasi lapangan dan laporan temuan sebelumnya. Lereng Gunung Bulusaraung menjadi fokus utama karena indikasi kuat adanya sebaran puing pesawat di area tersebut. Tim di arahkan untuk menyisir wilayah yang belum tercakup secara maksimal, dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel dan kondisi cuaca.

Operasi SAR ini mencerminkan kompleksitas penanganan kecelakaan udara di daerah pegunungan, yang memerlukan kolaborasi lintas sektor, ketahanan fisik personel, serta pemanfaatan teknologi navigasi secara optimal. Seluruh upaya yang dilakukan menunjukkan komitmen kuat dalam menjalankan misi kemanusiaan demi menemukan dan mengevakuasi korban secara bermartabat.