Wahana Visi Indonesia (WVI) terus menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung peningkatan literasi anak-anak Papua. Melalui penerbitan lebih dari 1.000 buku cerita anak, lembaga ini berupaya menghadirkan bahan bacaan yang bermutu dan mudah di pahami oleh masyarakat setempat. Langkah tersebut dilakukan karena Papua masih menghadapi berbagai tantangan pendidikan, terutama dalam membangun kebiasaan membaca sejak usia dini. Oleh sebab itu, kehadiran buku cerita menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan anak-anak sekolah.
Selain itu, WVI menyadari bahwa persoalan literasi tidak dapat di selesaikan oleh satu pihak saja. Dengan demikian, lembaga ini menjalin kolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Kerja sama dilakukan bersama Teach for Indonesia Binus University, Jakarta International University, dan Universitas Pelita Harapan. Kolaborasi tersebut di wujudkan melalui program “Serah Terima Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2”. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi lintas institusi mampu memberikan dampak sosial yang lebih besar bagi dunia literasi di Papua.
Kolaborasi Perguruan Tinggi sebagai Solusi Akses Buku Bacaan
Pada dasarnya, tantangan utama yang di hadapi anak-anak Papua adalah keterbatasan akses terhadap buku bacaan. Banyak sekolah dan rumah baca di daerah terpencil masih kekurangan koleksi buku yang menarik dan edukatif. Akibatnya, minat baca anak menjadi rendah karena mereka tidak memiliki sumber belajar yang memadai. Oleh karena itu, program kolaborasi ini di fokuskan untuk mengatasi kesenjangan tersebut. WVI bersama para mitra pendidikan tinggi berupaya menyediakan buku cerita yang sesuai dengan kebutuhan anak Papua.
Selanjutnya, melalui kegiatan serah terima buku, sebanyak 1.080 eksemplar buku cerita anak akan didistribusikan ke 45 rumah baca dampingan WVI di Papua. Buku-buku tersebut di tujukan bagi anak-anak sekolah dasar serta para guru relawan lokal yang selama ini aktif mendampingi kegiatan belajar. Dengan adanya tambahan koleksi bacaan, rumah baca dapat menjalankan aktivitas membaca bersama secara lebih kreatif. Di samping itu, para guru dan relawan juga memperoleh referensi baru untuk mengajarkan teknik membaca yang menyenangkan.
Lebih jauh lagi, program ini merupakan kelanjutan dari gerakan literasi yang telah di mulai sejak tahun 2024. Pada tahap pertama, inisiatif tersebut berhasil menghasilkan 10 judul buku cerita kontekstual Papua. Kemudian, pada tahap kedua, program diperluas dengan melibatkan lebih banyak penulis dan ilustrator dari kalangan mahasiswa. Melalui perluasan kerja sama, WVI ingin memastikan bahwa ketersediaan buku bacaan di Papua terus meningkat setiap tahun. Dengan demikian, anak-anak Papua tidak lagi tertinggal dalam memperoleh pendidikan literasi yang layak.
Tantangan Tingkat Literasi Papua Berdasarkan Data Pendidikan
Akan tetapi, kondisi literasi di Papua hingga saat ini masih tergolong memprihatinkan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2024, tingkat literasi Papua hanya mencapai 47,57 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara Papua dan daerah lain di Indonesia. Akibatnya, banyak anak-anak sekolah mengalami kesulitan memahami pelajaran di kelas. Oleh sebab itu, rendahnya kemampuan membaca menjadi hambatan utama dalam mengembangkan potensi mereka.
Di sisi lain, keterbatasan literasi juga berdampak pada kualitas kehidupan masyarakat Papua secara umum. Anak-anak yang tidak terbiasa membaca akan sulit mengakses informasi baru dan peluang pendidikan lanjutan. Dengan demikian, kesenjangan sosial ekonomi dapat terus berlanjut apabila tidak segera di tangani. Oleh karena itu, Papua memerlukan program literasi yang berkesinambungan dan mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga sosial, dan dunia pendidikan harus bekerja bersama agar peningkatan literasi dapat berjalan efektif.
Lebih lanjut, WVI memberikan beberapa catatan penting terkait pengembangan literasi di Papua. Pertama, upaya membangun budaya membaca masih menjadi tantangan berat. Kedua, Papua membutuhkan bahan bacaan yang relevan dengan budaya lokal. Ketiga, di perlukan keterlibatan generasi muda untuk mendukung gerakan literasi. Dengan demikian, penerbitan dan distribusi buku cerita anak menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang. Melalui langkah ini, anak-anak Papua di harapkan dapat memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.

Foto bersama Wahana Visi Indonesia, bersama dengan Jakarta International University dan Bina Nusantara University dalam program Buku Cerita Anak Papua Jilid 2
Buku Cerita Anak Berbasis Budaya Lokal Papua
Kemudian, salah satu kekuatan utama dari buku cerita yang di terbitkan WVI adalah pendekatan kontekstual berbasis budaya Papua. Dalam kolaborasi jilid kedua ini, di hadirkan 24 judul buku cerita anak yang merefleksikan nilai, tradisi, serta kehidupan sehari-hari masyarakat Papua. Cerita dalam buku tidak hanya menarik, tetapi juga dekat dengan pengalaman anak-anak setempat. Dengan demikian, proses belajar membaca menjadi lebih mudah karena anak merasa mengenal lingkungan yang di gambarkan dalam cerita.
Selanjutnya, buku-buku tersebut ditulis oleh para pengajar dan pendamping masyarakat Papua. Mereka memahami secara langsung karakteristik anak-anak yang menjadi sasaran program literasi. Oleh sebab itu, isi cerita mampu menggambarkan kebiasaan, permainan tradisional, hingga kekayaan alam Papua secara lebih nyata. Di samping itu, penggunaan bahasa yang sederhana membuat buku tersebut mudah di gunakan oleh guru maupun relawan literasi lokal.
Selain itu, ilustrasi dalam buku cerita juga disusun agar sesuai dengan penggambaran budaya setempat. Mahasiswa yang terlibat sebagai ilustrator terlebih dahulu melakukan riset dan diskusi mendalam bersama penulis. Dengan demikian, gambar yang ditampilkan mampu memikat minat baca anak-anak Papua. Ilustrasi tentang rumah adat, pakaian tradisional, dan suasana kampung lokal membantu anak lebih tertarik membuka halaman demi halaman. Oleh sebab itu, buku cerita kontekstual ini tidak hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya Papua.
Ruang Berkarya Mahasiswa dalam Gerakan Literasi Papua
Di samping memberi manfaat bagi anak-anak Papua, program ini juga membuka ruang berkarya bagi mahasiswa. Teach for Indonesia Binus University, UPH, dan JIU melibatkan mahasiswa sebagai relawan muda dalam komunitas KinCir. Mereka berkontribusi sebagai penulis dan ilustrator untuk menciptakan buku cerita anak Papua. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar nyata melalui kegiatan sosial yang bermanfaat.
Selanjutnya, keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam memperluas gerakan literasi. Tanpa adanya program kolaborasi ini, banyak mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk bekerja langsung bagi Papua. Oleh sebab itu, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan, kreativitas, dan kepedulian sosial. Deputy Head of New Media Program Binus, Liliek Adelina Suhardjono menegaskan bahwa semakin banyak kaum muda harus terlibat dalam gerakan membaca di Papua. Ia berharap program ini dapat memotivasi generasi muda lainnya untuk berkontribusi dalam penguatan literasi nasional.
Lebih jauh lagi, melalui kolaborasi lintas lembaga ini, WVI bersama para mitra memiliki harapan besar terhadap masa depan anak Papua. Program distribusi buku cerita kontekstual di harapkan dapat memperkuat budaya literasi di rumah baca maupun sekolah. Dengan demikian, anak-anak Papua dapat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, cakap, serta bangga terhadap budayanya sendiri. Oleh sebab itu, sinergi antara organisasi sosial dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk mendukung kualitas pendidikan literasi yang lebih merata di seluruh Indonesia, terutama di Papua.