Ketombe yang muncul secara mendadak sering kali menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang. Tidak sedikit yang langsung mengaitkannya dengan gangguan kesehatan tertentu. Namun, dalam sebagian besar kasus, ketombe bukanlah indikator penyakit serius. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan respons alami kulit kepala terhadap perubahan kebiasaan perawatan, lingkungan sekitar, maupun gaya hidup sehari-hari.
Kulit kepala pada dasarnya memiliki karakteristik yang sama dengan kulit di bagian tubuh lain. Ia dapat bereaksi terhadap berbagai faktor, seperti tingkat kebersihan, fluktuasi hormon, stres, hingga paparan lingkungan. Menurut Jeannette Graf, dokter kulit bersertifikat, perubahan kecil dalam rutinitas atau kondisi tubuh dapat memicu reaksi berupa pengelupasan kulit kepala yang tampak sebagai ketombe.
Kebiasaan Mencuci Rambut yang Tidak Tepat
Salah satu penyebab paling umum munculnya ketombe adalah kebiasaan mencuci rambut yang kurang sesuai. Jarang keramas dapat menyebabkan penumpukan minyak alami (sebum) dan sel kulit mati di kulit kepala. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme alami, termasuk ragi Malassezia.
Dokter kulit Heidi Prather menjelaskan bahwa penumpukan minyak akibat jarang mencuci rambut dapat memicu pertumbuhan flora kulit yang berlebihan. Ketika jumlah ragi meningkat, proses regenerasi sel kulit kepala menjadi lebih cepat sehingga terjadi pengelupasan berlebih.
Sebaliknya, mencuci rambut terlalu sering juga dapat berdampak negatif. Kseniya Kobets menyebutkan bahwa keramas berlebihan dapat menghilangkan minyak alami secara ekstrem, sehingga kulit kepala merespons dengan memproduksi lebih banyak minyak sebagai mekanisme kompensasi. Akibatnya, ketombe justru dapat muncul kembali.
Penggunaan Produk Rambut yang Kurang Sesuai
Faktor lain yang sering luput di perhatikan adalah pemilihan dan cara penggunaan produk perawatan rambut. Produk styling berbasis alkohol atau minyak tertentu dapat menyebabkan kulit kepala menjadi kering atau justru semakin berminyak. Kondisi ini dapat memicu iritasi dan memperparah ketombe.
Menurut Deanne Mraz Robinson, produk rambut sebaiknya di aplikasikan hanya pada batang hingga ujung rambut, bukan langsung pada kulit kepala. Kesalahan penggunaan produk dapat menyebabkan penumpukan residu yang menghambat keseimbangan alami kulit kepala.
Pengaruh Pola Makan terhadap Kesehatan Kulit Kepala
Kesehatan kulit kepala juga sangat di pengaruhi oleh asupan nutrisi harian. Pola makan tinggi gula dan lemak tidak sehat dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh, termasuk di area kulit kepala. Kondisi peradangan ini berkontribusi pada produksi minyak berlebih dan munculnya ketombe.
Sebaliknya, konsumsi makanan yang kaya asam lemak omega-3, sayuran hijau, serta nutrisi antiinflamasi lainnya dapat membantu menjaga keseimbangan produksi sebum dan mendukung kesehatan kulit kepala secara menyeluruh.

Ilustrasi Shampoan
Faktor Lingkungan dan Iklim
Lingkungan memiliki peran penting dalam munculnya ketombe. Cuaca panas dan lembap dapat meningkatkan produksi keringat dan minyak, sehingga mempercepat pertumbuhan ragi di kulit kepala. Sementara itu, udara dingin dan kering juga dapat menyebabkan kulit kepala kehilangan kelembapan alaminya.
Aktivitas fisik yang menghasilkan keringat, terutama jika tidak segera dibersihkan, juga dapat memperburuk kondisi kulit kepala. Keringat yang terperangkap menciptakan kondisi hangat dan lembap yang mendukung munculnya ketombe.
Peran Stres dalam Munculnya Ketombe
Stres yang tidak terkelola dengan baik turut berkontribusi terhadap masalah kulit kepala. Peningkatan hormon kortisol akibat stres dapat memicu produksi minyak berlebih serta peradangan. Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko munculnya ketombe menjadi lebih tinggi.
Meskipun ketombe bukan kondisi berbahaya, kemunculannya dapat menjadi sinyal bahwa tubuh sedang mengalami tekanan fisik atau emosional.
Kandungan Aktif untuk Membantu Mengatasi Ketombe
Pemilihan sampo dengan kandungan aktif tertentu dapat membantu mengendalikan ketombe. Bahan seperti zinc pyrithione dan ketoconazole berfungsi menekan pertumbuhan ragi, sementara asam salisilat membantu mengangkat sisik kulit mati. Tea tree oil juga dikenal memiliki sifat antimikroba dan antiinflamasi yang mendukung kesehatan kulit kepala.
Apabila ketombe tidak kunjung membaik atau justru semakin parah, konsultasi dengan dokter kulit sangat dianjurkan untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
Dengan memahami berbagai faktor pemicu ketombe, kondisi ini tidak lagi perlu disikapi dengan kepanikan. Penyesuaian sederhana dalam perawatan rambut, pola makan, serta manajemen stres sering kali sudah cukup untuk membantu menjaga kesehatan kulit kepala secara optimal.