Operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) merupakan tahapan krusial dalam penanganan kecelakaan transportasi udara, terutama ketika lokasi kejadian berada di medan yang sulit di jangkau. Kondisi geografis, cuaca, serta aksesibilitas menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan proses evakuasi korban dan pengamanan lokasi.

Salah satu tantangan tersebut muncul dalam operasi SAR lanjutan kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang di temukan di kawasan Bukit Bulusaraung, wilayah Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Dalam situasi ini, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menerapkan strategi evakuasi yang adaptif dengan mempertimbangkan kondisi lapangan secara menyeluruh.

Perencanaan Jalur Evakuasi Korban

Basarnas menyiapkan dua skema jalur evakuasi utama, yaitu melalui jalur udara dan jalur darat. Penentuan jalur evakuasi dilakukan secara fleksibel dengan memperhatikan faktor keselamatan personel dan efektivitas proses pemindahan korban. Jalur udara menjadi opsi prioritas apabila kondisi cuaca dan visibilitas memungkinkan. Penggunaan helikopter di nilai mampu mempercepat proses evakuasi, terutama di wilayah pegunungan dengan medan terjal dan akses darat yang terbatas.

Dalam rencana operasional, helikopter tipe Caracal di siapkan untuk mendukung evakuasi melalui metode pendaratan terbatas maupun teknik hoist. Metode ini memungkinkan proses pengangkatan korban tanpa harus mendarat sempurna di lokasi yang memiliki keterbatasan ruang. Namun demikian, Basarnas tetap menyiapkan alternatif jalur darat sebagai opsi cadangan apabila kondisi cuaca, angin, atau topografi tidak mendukung operasi udara.

Evakuasi Darat sebagai Alternatif Operasional

Jalur darat di pilih sebagai opsi kedua apabila evakuasi udara tidak dapat di laksanakan secara aman. Dalam skema ini, tim SAR gabungan akan bergerak menuju lokasi kejadian dengan membawa peralatan evakuasi manual.

Proses evakuasi darat membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks serta waktu yang lebih panjang, mengingat medan Bukit Bulusaraung yang di dominasi oleh hutan dan jalur pendakian. Meski demikian, jalur ini tetap di anggap penting sebagai bagian dari mitigasi risiko dalam operasi SAR.

Tim Basarnas menyiapkan jalur evakuasi udara dan darat di medan terjal Bulusaraung untuk korban pesawat ATR 42-500

Tim Basarnas menyiapkan jalur evakuasi udara dan darat di medan terjal Bulusaraung untuk korban pesawat ATR 42-500

Pengangkatan Bagian Pesawat untuk Investigasi

Selain fokus pada evakuasi korban, Basarnas juga merencanakan pengangkatan sejumlah bagian pesawat yang di nilai penting untuk mendukung proses investigasi kecelakaan udara. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari koordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang bertanggung jawab dalam penyelidikan penyebab kecelakaan. Pengamanan dan evakuasi bagian pesawat menjadi aspek krusial guna memastikan data teknis dapat di analisis secara akurat.

Proses ini dilakukan dengan prosedur ketat agar tidak merusak struktur atau komponen penting pesawat. Setiap bagian yang di angkat akan di dokumentasikan dan di serahkan sesuai mekanisme investigasi yang berlaku. Dengan demikian, operasi SAR tidak hanya berorientasi pada aspek kemanusiaan, tetapi juga mendukung upaya peningkatan keselamatan transportasi udara nasional.

Keterlibatan Tim SAR Gabungan

Operasi SAR ini melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta potensi SAR dan relawan. Sinergi antarinstansi menjadi kunci utama dalam pelaksanaan operasi di medan yang menantang. Dukungan peralatan darat, udara, serta teknologi komunikasi lapangan di manfaatkan untuk memperlancar koordinasi dan pemantauan situasi secara real time.

Selain itu, pemantauan kondisi cuaca di lakukan secara intensif guna meminimalkan risiko terhadap keselamatan seluruh personel yang bertugas. Faktor cuaca menjadi salah satu variabel paling dinamis dalam operasi SAR, sehingga setiap keputusan operasional harus di dasarkan pada data meteorologi terkini.

Penutup

Strategi evakuasi yang di terapkan Basarnas dalam operasi SAR lanjutan kecelakaan pesawat di Sulawesi Selatan menunjukkan pentingnya perencanaan yang adaptif dan berbasis kondisi lapangan.

Dengan menyiapkan jalur udara dan darat secara simultan, serta mengintegrasikan aspek evakuasi korban dan investigasi kecelakaan, operasi SAR dapat berjalan secara komprehensif. Pendekatan ini di harapkan dapat menjadi model dalam penanganan kecelakaan transportasi udara di wilayah dengan karakteristik geografis yang kompleks.