Inovasi – Batik terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan akar budayanya. Jika selama ini sebagian besar perajin berfokus pada keindahan motif dan pelestarian tradisi, sejumlah pelaku kreatif mulai menghadirkan inovasi yang menawarkan manfaat lebih bagi kehidupan sehari-hari.
Salah satu terobosan menarik datang dari Titi Permata, anggota Komunitas Soramata asal Salatiga. Melalui riset dan eksperimen yang berlangsung selama beberapa tahun, ia berhasil mengembangkan batik yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV).
Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa wastra Nusantara dapat beradaptasi dengan tantangan masa kini, termasuk isu perubahan iklim dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan serta lingkungan.
Batik Fungsional yang Lahir dari Kepedulian terhadap Lingkungan
Titi memperkenalkan karya inovatifnya dalam ajang Gema Ujana yang berlangsung di Pasar Tegalan, Tegalombo, Blotongan, Salatiga. Dalam pameran tersebut, ia menampilkan batik bermotif Salatiga Retrodot yang memiliki kemampuan perlindungan terhadap sinar UV.
Gagasan itu muncul dari rasa ingin tahu sekaligus keinginan untuk menghadirkan batik yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Sebagai komunitas yang tumbuh secara mandiri melalui kegiatan membatik, Soramata berupaya menciptakan terobosan yang memberikan dampak nyata. Titi melihat pemanasan global sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Kondisi tersebut mendorongnya mencari cara agar batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menawarkan manfaat praktis bagi penggunanya.
Ia kemudian memulai serangkaian percobaan untuk menemukan formulasi terbaik yang mampu memberikan perlindungan terhadap paparan sinar matahari.
Riset Panjang untuk Menemukan Formula Terbaik
Dalam proses pengembangannya, Titi menaruh perhatian pada dua unsur utama dalam pembuatan batik, yaitu jenis kain dan bahan pewarna.
Ia mencoba berbagai kombinasi material untuk mengetahui tingkat efektivitasnya dalam menghambat paparan sinar ultraviolet. Setelah melalui sejumlah pengujian, ia menemukan bahwa katun mentah dengan ketebalan tertentu memberikan hasil paling optimal.
Katun tersebut belum melalui proses pemutihan maupun pengolahan lanjutan di pabrik. Karakter alami seratnya dinilai mampu mendukung fungsi perlindungan secara lebih baik dibanding bahan lain.
Sementara itu, Titi memilih pewarna alami sebagai bagian penting dalam inovasinya. Berbagai bahan dari alam seperti kayu-kayuan, daun kopi, serta tanaman indigo atau tarum menunjukkan kemampuan perlindungan yang cukup tinggi terhadap sinar UV.
Untuk memastikan efektivitasnya, ia melakukan pengujian menggunakan UV Card. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kombinasi antara katun mentah dan pewarna alami memberikan daya lindung yang paling maksimal.

Membatik di kain sepanjang 10 meter di pameran komunitas Gema Ujana.
Mengedepankan Konsep Berkelanjutan
Keunggulan inovasi ini tidak berhenti pada manfaat perlindungan terhadap sinar matahari. Titi juga memperhatikan dampak lingkungan dari setiap tahapan produksinya.
Ia mengembangkan konsep batik berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan yang mudah terurai secara alami. Ketika masa pakainya berakhir, limbah kain katun dapat terdekomposisi dengan baik di dalam tanah karena seluruh komponennya dapat dikenali oleh mikroorganisme.
Pendekatan tersebut menjadikan produk batik ini lebih ramah lingkungan dibanding produk tekstil yang mengandung banyak bahan sintetis.
Meski telah memperoleh hasil yang menjanjikan, Titi belum terburu-buru memasarkan produknya secara luas. Ia masih ingin melanjutkan penelitian serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak guna menyempurnakan inovasi tersebut.
Gema Ujana Jadi Ruang Kolaborasi Komunitas Kreatif
Gema Ujana merupakan pameran yang rutin hadir setiap dua tahun sekali. Kegiatan ini mempertemukan berbagai komunitas seni dan pelaku ekonomi kreatif dari Salatiga hingga Yogyakarta.
Selain Soramata, komunitas Maniksaka dari Yogyakarta turut meramaikan acara. Maniksaka menghadirkan beragam produk perawatan tubuh berbahan alami, seperti sabun cair, parfum, body butter, hingga linen dan room spray yang memanfaatkan kekayaan hayati Nusantara.
Kolaborasi lintas komunitas tersebut menunjukkan besarnya potensi industri kreatif lokal dalam menciptakan produk yang unik, inovatif, sekaligus berakar pada identitas budaya Indonesia.
Pameran Interaktif yang Dekat dengan Masyarakat
Tidak hanya menampilkan produk, Gema Ujana juga menghadirkan berbagai aktivitas edukatif dan interaktif bagi pengunjung.
Masyarakat dapat mengikuti kelas membatik bersama di atas kain sepanjang 10 meter, workshop meracik parfum alami, kelas kepang rambut, hingga kegiatan face painting untuk anak-anak.
Bazar kuliner yang melibatkan para ibu dari berbagai lingkungan sekitar Pasar Tegalan turut menambah semarak suasana. Pengunjung dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dapat menikmati pengalaman belajar sekaligus berinteraksi langsung dengan para pelaku kreatif.
Dukungan terhadap transaksi digital juga menjadi bagian dari penyelenggaraan acara. Sejumlah peserta menyediakan metode pembayaran menggunakan QRIS sehingga proses pembelian berlangsung lebih praktis dan efisien.
Kehadiran batik pelindung sinar UV karya Titi Permata membuktikan bahwa inovasi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Dengan memadukan kearifan lokal, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan, batik Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan menjawab kebutuhan masyarakat di masa depan.