Sina Beranti – merupakan salah satu warisan budaya khas suku Tidung yang memiliki nilai sejarah, filosofi, serta identitas yang kuat. Busana adat ini di kenal luas sebagai pakaian resmi yang di kenakan oleh mempelai pria dalam prosesi pernikahan adat Tidung. Keunikan desain, warna, serta berbagai aksesoris yang menyertainya menjadikan Sina Beranti tidak hanya berfungsi sebagai pakaian seremonial. Tetapi juga sebagai simbol kehormatan, doa, dan harapan bagi kehidupan rumah tangga.

Popularitas Sina Beranti semakin meningkat setelah tampil sebagai ilustrasi pakaian adat Kalimantan Utara pada uang pecahan khusus Rp75.000 yang diterbitkan Bank Indonesia dalam rangka memperingati 75 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2020. Kehadirannya pada uang edisi khusus tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kekayaan budaya Indonesia sekaligus memperkenalkan budaya Tidung kepada masyarakat yang lebih luas.

Suku Tidung sendiri merupakan salah satu kelompok etnis terbesar di Provinsi Kalimantan Utara. Komunitas ini tersebar di berbagai wilayah, seperti Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, hingga Kabupaten Tana Tidung. Sebagai masyarakat pesisir, budaya Tidung berkembang melalui perpaduan berbagai pengaruh, terutama budaya Melayu dan Sulawesi, yang kemudian di perkaya dengan nilai-nilai Islam yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakatnya.

Sina Beranti sebagai Busana Adat Pengantin Pria

Berbeda dengan pakaian sehari-hari, Sina Beranti hanya di gunakan pada momen-momen istimewa, khususnya saat pelaksanaan upacara pernikahan adat. Dalam tradisi masyarakat Tidung, mempelai pria mengenakan Sina Beranti, sedangkan mempelai perempuan memakai busana bernama Antakusuma. Kedua busana tersebut menjadi satu kesatuan yang melambangkan keseimbangan, keharmonisan, dan ikatan sakral dalam kehidupan berumah tangga.

Penggunaan Sina Beranti bukan hanya bertujuan memperindah penampilan pengantin laki-laki. Lebih dari itu, setiap unsur yang melekat pada busana ini memiliki makna simbolis yang di wariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai tersebut mencerminkan harapan agar pasangan yang menikah dapat menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan, kesejahteraan, serta keberkahan.

Busana ini terdiri atas baju berlengan panjang yang di padukan dengan celana panjang, kain atau sarung sebagai pelengkap, serta berbagai aksesoris khas yang menjadi identitas budaya Tidung. Seluruh perlengkapan tersebut di kenakan secara lengkap sebagai bagian dari tata cara adat yang telah berlangsung selama beberapa generasi.

Dominasi Warna Emas yang Melambangkan Kemuliaan

Salah satu ciri paling menonjol dari Sina Beranti adalah penggunaan warna kuning keemasan yang mendominasi keseluruhan busana. Warna ini di pilih bukan sekadar untuk memberikan kesan mewah, melainkan memiliki filosofi yang sangat mendalam dalam kehidupan masyarakat Tidung.

Bagi suku Tidung, warna kuning emas melambangkan kemuliaan, kehormatan, serta kebesaran. Warna tersebut menjadi simbol bahwa seorang pengantin pria tengah menjalani fase penting dalam hidupnya sekaligus mengemban tanggung jawab baru sebagai kepala keluarga.

Ketika di padukan dengan berbagai aksesoris tradisional, penampilan pengantin menjadi semakin berwibawa. Busana ini mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap prosesi pernikahan sebagai peristiwa sakral yang tidak hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga besar.

Busana adat Sina Beranti, pakaian pengantin pria khas suku Tidung dari Kalimantan Utara dengan mahkota Tanduk Galung dan aksesoris tradisional bermakna.

Foto: Uang pecahan Rp 75 ribu

Tanduk Galung, Mahkota dengan Makna Perlindungan

Bagian paling ikonik dari Sina Beranti adalah penutup kepala yang di kenal dengan nama Tanduk Galung. Aksesoris ini menjadi identitas utama yang membedakan busana adat Tidung dengan pakaian adat dari daerah lainnya di Indonesia.

Nama Tanduk Galung berasal dari kepercayaan masyarakat Tidung terhadap seekor kucing jantan berbulu tiga warna yang di percaya membawa keberuntungan. Dalam cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun, hewan tersebut di yakini memiliki tanduk yang kemudian di jadikan simbol perlindungan, kesejahteraan, kedamaian, serta kepemimpinan yang di cintai oleh masyarakat.

Dalam prosesi pernikahan adat, pasangan pengantin di pandang sebagai raja dan ratu sehari. Oleh karena itu, penggunaan Tanduk Galung menjadi simbol doa agar rumah tangga yang di bangun senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, serta kehidupan yang harmonis.

Selain Tanduk Galung, terdapat pula mahkota bernama Jamong Malaka yang menghiasi bagian kepala pengantin pria. Mahkota ini memiliki ornamen berbentuk lingkaran oval yang menggambarkan bibit dan bunga. Bentuk tersebut melambangkan pertumbuhan, perkembangan, serta harapan agar kehidupan keluarga yang baru dapat berkembang dengan baik dari waktu ke waktu.

Makna Filosofis Berbagai Aksesoris Sina Beranti

Keistimewaan Sina Beranti juga terlihat pada setiap aksesoris yang di kenakan bersama busana utama. Seluruh pelengkap tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki nilai filosofis yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Tidung.

Pada bagian pergelangan tangan terdapat gelang yang di kenal sebagai Sulou atau Binsaloi. Gelang ini memiliki makna sebagai simbol penyejuk atau pendingin. Filosofinya mengajarkan agar seseorang mampu mengendalikan emosi, bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, serta tidak menyalahgunakan kewenangan ketika memimpin keluarga maupun masyarakat.

Di permukaan gelang tersebut terdapat ukiran bernama Wapak. Ornamen ini menjadi simbol doa agar setiap langkah dan keputusan yang di ambil selalu memperoleh petunjuk serta keridaan Tuhan.

Sementara itu, pada bagian lengan terdapat gelang Kalid yang melambangkan kekuatan, pertahanan, dan perlindungan dari berbagai ancaman. Simbol ini menggambarkan harapan agar pemimpin keluarga memiliki keteguhan hati dalam menjaga, melindungi, dan membimbing keluarganya menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sina Beranti sebagai Warisan Budaya Kalimantan Utara

Sina Beranti merupakan salah satu kekayaan budaya yang mencerminkan identitas masyarakat Tidung di Kalimantan Utara. Keindahan busana ini tidak hanya terlihat dari perpaduan warna dan desainnya, tetapi juga dari filosofi yang terkandung dalam setiap unsur penyusunnya.

Setiap mahkota, gelang, warna, hingga ukiran mengandung pesan moral mengenai kepemimpinan, tanggung jawab, keharmonisan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting yang terus di wariskan kepada generasi muda agar tradisi dan identitas budaya Tidung tetap lestari.

Melalui pengakuan sebagai salah satu ilustrasi pakaian adat pada uang khusus Rp75.000, Sina Beranti semakin di kenal sebagai simbol kebanggaan Kalimantan Utara. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan budaya Indonesia memiliki keragaman yang kaya serta menyimpan makna mendalam yang patut di jaga dan di lestarikan oleh seluruh masyarakat.