Motif Saung Seling Dayak Kenyah – bukan hanya menjadi hiasan pada perlengkapan adat, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, kepercayaan, dan kisah leluhur masyarakat Dayak Kenyah. Di Desa Long Kemuat, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, terdapat salah satu motif yang di anggap sakral karena berkaitan dengan legenda Hantu Petir.
Masyarakat adat mengenal saung seling sebagai topi tradisional yang biasa di gunakan dalam berbagai kegiatan adat. Selain itu, motif serupa juga menghiasi gendongan bayi yang menjadi bagian dari perlengkapan keluarga bangsawan atau paren.
Motif berbentuk manusia tersebut di percaya berasal dari kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi masyarakat Dayak Kenyah Lepo’ Ke, motif itu tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga menjadi simbol hubungan antara manusia, leluhur, dan dunia spiritual.
Limbang, seorang perajin saung seling asal Desa Long Kemuat, menjelaskan bahwa kisah mengenai motif tersebut telah di ceritakan oleh orang tuanya sejak dahulu. Ia menyebut motif manusia pada saung seling memiliki hubungan erat dengan legenda seorang gadis cantik dan sosok gaib bernama Hantu Petir.
Legenda Gadis Cantik dan Hantu Petir
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat adat Dayak Kenyah, dahulu terdapat seorang gadis yang di kenal memiliki kecantikan luar biasa. Banyak laki-laki datang untuk meminangnya, bahkan keluarga gadis tersebut juga berusaha mencarikan pasangan untuknya.
Namun, gadis itu selalu menolak setiap lamaran yang datang. Ia tidak ingin menerima pernikahan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Situasi tersebut kemudian menarik perhatian Hantu Petir, sosok gaib yang di percaya memiliki kekuatan besar. Dalam legenda tersebut, Hantu Petir mengetahui bahwa ibu sang gadis terus mendesaknya agar segera menikah.
Hantu Petir kemudian mendekati sang gadis hingga akhirnya mereka memiliki hubungan yang menyebabkan gadis tersebut mengandung. Kejadian itu membuat keluarga sang gadis terkejut, terutama karena tidak ada laki-laki yang di ketahui menjadi pasangan putrinya.
Ketika usia kandungan memasuki enam bulan, perubahan fisik sang gadis mulai terlihat. Sang ibu akhirnya mengetahui kehamilan tersebut dan merasa marah karena anaknya mengandung tanpa suami.
Dalam kemarahannya, sang ibu berniat mengusir anaknya dari rumah. Ia berencana menempatkan gadis tersebut di sebuah pondok yang berada dekat kawasan kuburan di seberang tempat tinggal mereka.
Pesan Hantu Petir Melalui Mimpi
Saat sang gadis hanya bisa menangis menerima keadaan, Hantu Petir kemudian hadir dalam mimpi ibunya. Dalam mimpi tersebut, Hantu Petir menyampaikan pesan agar sang ibu tidak memperlakukan anaknya dengan buruk.
Hantu Petir menjelaskan bahwa dirinya merupakan sosok yang di jodohkan oleh keluarga sang gadis melalui keinginan untuk menikahkan putrinya. Karena itu, ia datang kepada gadis tersebut dan meminta keluarga menghormati keadaan yang terjadi.
Ia juga meminta agar sang gadis tidak di tempatkan di dekat kuburan. Hantu Petir berjanji akan kembali ketika waktu kelahiran anak tersebut tiba.
Beberapa waktu kemudian, tanda-tanda kelahiran mulai muncul. Pada malam menjelang persalinan, ibu sang gadis melihat sosok seperti manusia memasuki kamar anaknya. Namun, wajah sosok tersebut tidak terlihat dengan jelas.
Tidak lama setelah itu, kilatan petir menyambar langit di sekitar rumah. Bersamaan dengan suara petir, lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian di beri nama Manggau.

Limbang perajin saung seling dari Long Kemuat Malinau sedang menunjukkan motif Hantu Petir.
Awal Mula Motif Hantu Petir pada Saung Seling
Tiga hari setelah kelahiran Manggau, Hantu Petir kembali datang. Dalam legenda tersebut, ia membawa sebuah saung dan gendongan bayi yang di hiasi motif berbentuk manusia.
Benda tersebut kemudian menjadi awal munculnya motif Hantu Petir yang di kenal masyarakat Dayak Kenyah hingga sekarang. Masyarakat percaya bahwa keturunan Manggau menjadi kelompok yang berhak menggunakan motif tersebut.
Karena memiliki nilai sejarah dan unsur spiritual yang kuat, motif Hantu Petir tidak boleh di gunakan secara sembarangan. Pada masa lalu, motif ini hanya menjadi bagian dari perlengkapan kaum bangsawan atau paren.
Selain motif Hantu Petir, masyarakat Dayak Kenyah juga mengenal motif lain yang berkaitan dengan dunia gaib, yaitu motif Hantu Air. Motif tersebut memiliki ciri khas berupa bentuk kaki terbalik.
Namun, menurut Limbang, motif Hantu Air lebih sulit dibuat karena bentuknya dipercaya tidak mudah ditiru oleh manusia. Oleh sebab itu, motif Hantu Petir menjadi salah satu motif yang tetap bertahan dan terus diwariskan.
Upaya Melestarikan Saung Seling Dayak Kenyah
Limbang mulai mempelajari pembuatan saung seling sejak berusia 18 tahun. Ia belajar langsung dari orang tuanya karena khawatir tradisi tersebut perlahan hilang akibat perubahan zaman.
Sebagai perajin, Limbang tidak hanya membuat saung seling sebagai karya seni, tetapi juga menjaga aturan adat yang melekat pada setiap motif. Ia tidak menjual saung seling kepada sembarang orang.
Menurutnya, seseorang yang ingin memiliki saung seling dengan motif tertentu harus menjelaskan latar belakang keluarganya terlebih dahulu. Hal tersebut bertujuan menjaga agar penggunaan motif tetap sesuai dengan nilai adat yang telah di wariskan leluhur.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah, saung seling bukan sekadar benda tradisional. Setiap ukiran yang terdapat di dalamnya memiliki cerita panjang tentang identitas, kehormatan keluarga, dan hubungan manusia dengan kepercayaan leluhur.
Melalui tangan para perajin seperti Limbang, warisan budaya tersebut terus bertahan. Motif Hantu Petir menjadi bukti bahwa seni tradisional tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat adat.