Nasi Oyek – merupakan makanan tradisional berbahan singkong yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah pangan masyarakat Jawa. Hidangan sederhana ini tidak hanya hadir sebagai alternatif pengganti beras. Nasi oyek juga berkaitan dengan kisah perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman ketika menjalankan perang gerilya pada masa Agresi Militer Belanda II.
Pada masa tersebut, keterbatasan bahan pangan menjadi tantangan besar bagi masyarakat maupun para pejuang. Beras tidak selalu tersedia, terutama ketika jalur distribusi terganggu akibat perang. Karena itu, masyarakat memanfaatkan singkong sebagai salah satu sumber karbohidrat yang lebih mudah diperoleh.
Dari kondisi tersebut, oyek menjadi pangan yang memiliki nilai lebih dari sekadar makanan tradisional. Bagi pasukan Jenderal Soedirman, makanan berbahan singkong ini bahkan pernah menjadi sumber tenaga ketika mereka menghadapi situasi sulit di tengah perjalanan gerilya.
Mengenal Nasi Oyek yang Terbuat dari Singkong
Nasi oyek atau sego oyek merupakan makanan berbahan utama singkong. Masyarakat mengolah singkong hingga menghasilkan butiran kecil yang tampilannya menyerupai nasi. Meski berasal dari bahan sederhana, proses pembuatannya membutuhkan beberapa tahapan.
Mengacu pada informasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, masyarakat biasanya memulai proses dengan membersihkan singkong. Setelah itu, singkong menjalani proses perendaman hingga teksturnya berubah menjadi lebih lunak.
Selanjutnya, singkong ditumbuk dan melalui tahap pengolahan berikutnya sebelum dikeringkan. Proses tersebut menghasilkan oyek kering yang dapat disimpan dalam waktu tertentu. Ketika akan menyantapnya, masyarakat bisa merendam kembali oyek kering tersebut lalu mengukusnya hingga matang.
Cara pengolahan tersebut membuat singkong dapat menjadi makanan pokok alternatif. Oleh karena itu, nasi oyek sejak lama dikenal oleh masyarakat di berbagai wilayah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Nasi Oyek dalam Perjalanan Gerilya Jenderal Soedirman
Nasi oyek juga memiliki hubungan dengan salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan Jenderal Soedirman. Ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung pada periode 1948–1949, Soedirman memimpin perjuangan melalui strategi gerilya.
Perjalanan tersebut membawa Soedirman bersama pasukannya melewati berbagai wilayah di Pulau Jawa. Kondisi perang membuat perjalanan mereka penuh tantangan. Selain menghadapi ancaman pasukan Belanda, rombongan juga harus mengatasi kelelahan dan keterbatasan persediaan makanan.
Kisah mengenai oyek dalam perjalanan tersebut diceritakan Abu Arifin, yang pernah bertugas sebagai Ajudan II Jenderal Soedirman. Cerita itu kemudian tercatat dalam buku yang membahas perjalanan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman.
Pada Desember 1948, rombongan Soedirman berada di sekitar Kediri, Jawa Timur. Situasi saat itu memaksa mereka berlindung di kawasan hutan rotan. Pasukan Belanda membatasi pergerakan rombongan sehingga persediaan makanan semakin menipis.

Ada kisah menarik di balik nasi oyek. Makanan dari singkong ini jadi penyelamat kala gerilya pasukan Jenderal Soedirman. Kok bisa?
Oyek Menjadi Sumber Energi Pasukan
Kondisi pasukan semakin berat ketika persediaan logistik tidak lagi mencukupi kebutuhan. Rasa lelah dan lapar mulai di rasakan oleh para anggota rombongan yang bertahan di kawasan hutan.
Dalam situasi tersebut, Kapten Soepardjo Rustam yang bertugas sebagai Ajudan I Jenderal Soedirman mendapat tugas mencari makanan. Ia harus melewati penjagaan tentara Belanda dan menuju permukiman masyarakat terdekat.
Untuk mendapatkan bahan pangan, ia membawa pakaian dan sarung bekas yang dapat di tukarkan dengan makanan milik penduduk. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Ketika makanan tiba, beberapa anggota pasukan awalnya mengira mereka mendapatkan nasi dari beras. Namun, makanan tersebut ternyata nasi oyek yang di buat masyarakat sekitar dari singkong.
Meski sederhana, oyek memberikan asupan energi yang sangat di butuhkan rombongan. Makanan tersebut membantu Jenderal Soedirman dan pasukannya bertahan selama berada di kawasan hutan rotan.
Peristiwa itu membuat nasi oyek menjadi bagian kecil tetapi bermakna dalam perjalanan panjang gerilya Soedirman. Rombongan bergerak dari Yogyakarta dan melewati berbagai kawasan di Jawa Tengah serta Jawa Timur. Perjalanan kemudian membawa mereka menuju wilayah Pacitan.
Mengapa Nasi Oyek Menjadi Alternatif Pengganti Beras?
Pemanfaatan oyek tidak dapat dilepaskan dari kondisi pangan masyarakat pada masa lalu. Saat perang berlangsung, masyarakat menghadapi kesulitan memperoleh beras. Gangguan distribusi dan keadaan ekonomi turut membuat bahan pangan utama tersebut tidak selalu tersedia.
Singkong kemudian menjadi salah satu pilihan karena masyarakat dapat menanamnya di berbagai kondisi lahan. Tanaman ini juga dapat menjadi sumber karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari.
Masyarakat kemudian mengembangkan berbagai teknik pengolahan singkong agar lebih mudah di simpan dan di konsumsi. Salah satu hasilnya adalah oyek. Setelah melalui pengolahan dan pengeringan, masyarakat dapat menyimpan bahan tersebut sebagai persediaan pangan.
Karena karakteristik itulah, nasi oyek memiliki peran penting ketika ketersediaan beras terbatas. Makanan tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Nasi Oyek Tetap Bertahan sebagai Kuliner Tradisional
Kini masyarakat tidak lagi menjadikan nasi oyek sebagai makanan darurat seperti pada masa perang. Namun, kuliner tradisional tersebut masih dapat di temukan di beberapa wilayah Jawa.
Sejumlah masyarakat tetap mempertahankan cara pembuatan oyek sebagai bagian dari warisan kuliner daerah. Bahkan, beberapa desa wisata menjadikannya sebagai salah satu produk pangan lokal yang di perkenalkan kepada pengunjung.
Salah satunya dapat di temukan di Desa Wisata Pesona Kumejing, Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat leye atau oyek sebagai salah satu kuliner berbahan singkong yang menjadi bagian dari potensi desa tersebut.
Keberadaan nasi oyek hingga sekarang menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya menyimpan nilai kuliner. Di balik kesederhanaannya, terdapat cerita mengenai ketahanan pangan, kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil bumi, serta perjalanan sejarah bangsa.
Kisah keterkaitan nasi oyek dengan perjuangan Jenderal Soedirman semakin memperkuat nilai historis makanan tersebut. Dari singkong yang tumbuh di tanah Jawa, masyarakat menciptakan sumber pangan yang mampu membantu memenuhi kebutuhan pada masa sulit. Karena itu, nasi oyek layak dipandang sebagai bagian dari kekayaan kuliner sekaligus jejak sejarah Indonesia.