Budaya Indonesia – Meksiko selama ini di kenal luas sebagai “Negeri Mariachi”, sebuah julukan yang merujuk pada tradisi musik rakyatnya yang kuat dan telah menjadi identitas budaya nasional. Kelompok mariachi dengan kostum khas, instrumen petik dan tiup, serta penampilan energik kerap mewarnai ruang publik, restoran, hingga berbagai perayaan di seluruh penjuru negeri, termasuk Mexico City.
Namun, suasana berbeda muncul di Bosque de Chapultepec, salah satu ruang terbuka hijau paling ikonik di Mexico City. Pada sebuah siang dalam ajang Aldea Global 2026, kawasan tersebut tidak hanya dipenuhi musik tradisional Meksiko, tetapi juga lantunan gamelan Bali dari Indonesia yang menghadirkan nuansa budaya lintas benua.
Gamelan Bali Tarik Perhatian Pengunjung Mexico City
Alunan gamelan Bali yang ritmis, dinamis, dan saling berbalas segera menarik perhatian pengunjung taman. Banyak orang yang awalnya hanya melintas akhirnya berhenti untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Mereka berkumpul di sekitar panggung terbuka untuk menikmati sesuatu yang belum pernah mereka dengar secara langsung sebelumnya.
Setelah satu bagian pertunjukan selesai, tepuk tangan panjang dan sorakan penonton langsung terdengar memenuhi area. Antusiasme itu menunjukkan ketertarikan besar masyarakat Meksiko terhadap musik tradisional Indonesia.
Pertunjukan kemudian berlanjut dengan intensitas yang semakin kuat. Para penari tampil membawakan Tari Oleg Tamulilingan dan Tari Baris yang memperkaya pengalaman visual penonton. Kombinasi musik dan tari menciptakan suasana yang hidup dan penuh energi, hingga membuat penonton memberikan apresiasi meriah.
Kolaborasi Gamelan dan Unsur Modern di Panggung Aldea Global 2026
Pertunjukan tidak berhenti pada format tradisional semata. Kelompok seni Gamelan Luz y Fuerza menghadirkan elemen tambahan berupa vokal ritmis “cak cak cak” yang mengingatkan pada seni Kecak dari Bali. Suara tersebut di padukan dengan gerakan tubuh para pemain sehingga menciptakan atmosfer teatrikal yang kuat.
Pada segmen akhir, suasana pertunjukan menjadi lebih interaktif. Penonton di ajak turun ke area depan panggung untuk menari bersama mengikuti irama gamelan yang di padukan dengan instrumen drum modern. Meskipun banyak yang belum terbiasa dengan gerakan tari Bali, mereka tetap berpartisipasi dengan antusias.
Keterlibatan langsung penonton membuat pertunjukan terasa lebih dekat dan inklusif. Banyak wajah tampak menunjukkan kegembiraan ketika mereka mengikuti irama musik hingga acara berakhir.

Sejumlah anggota kelompok seni khas Bali asal Meksiko, Gamelan Luz Y Fuerza menampilkan kesenian gamelan dan tari Baris dalam Festival Budaya Aldea Global 2026 di Puerta de los Leones, Bosque de Chapultepec, Mexico City, Meksiko, Minggu (21/6/2026) waktu setempat. Kelompok seni yang didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat tersebut menampilkan sejumlah kesenian seperti tari Legong, tari Baris, tari Kecak, dan musik gamelan Bali pada ajang untuk menyambut kemeriahan Piala Dunia 2026 di Meksiko itu.
Gamelan Luz y Fuerza dan Peran Seniman Lokal Meksiko
Kelompok Gamelan Luz y Fuerza menjadi sorotan utama dalam pertunjukan tersebut. Uniknya, mayoritas anggota kelompok ini merupakan warga negara Meksiko yang memiliki ketertarikan kuat terhadap seni budaya Bali. Mereka belajar langsung dari para seniman Indonesia dan mengembangkan kemampuan mereka secara konsisten.
Pemimpin kelompok, Ethan Zhihao Wang, menyampaikan bahwa gamelan Bali memiliki kekuatan artistik yang mampu menyatukan berbagai latar belakang budaya. Ia menilai musik tradisional Indonesia memiliki daya tarik universal yang bisa diterima oleh masyarakat Meksiko.
Untuk menjembatani perbedaan budaya, kelompok ini juga menambahkan instrumen drum modern dalam pertunjukan mereka. Pendekatan tersebut membantu audiens lokal lebih mudah menikmati musik gamelan karena unsur ritmisnya menjadi lebih familiar.
Ethan juga menegaskan bahwa dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Meksiko memainkan peran penting dalam perkembangan kelompoknya. Fasilitas latihan, penyediaan alat musik, hingga dukungan teknis membantu mereka tampil lebih profesional di berbagai panggung.
Antusiasme Publik Meksiko terhadap Seni Bali
Salah satu penonton, Nayeli, mengaku terkesan dengan pertunjukan tersebut. Ia menilai kombinasi musik, tarian, dan kostum para seniman menciptakan pengalaman yang memikat. Ia juga mengapresiasi kesempatan untuk mengenal budaya Indonesia secara langsung melalui pertunjukan tersebut.
Selain itu, seniman Meksiko lain yang terlibat dalam pertunjukan, Olinka Torres, menyampaikan bahwa ketertarikannya terhadap seni tari Bali telah tumbuh sejak lama. Ia bahkan pernah belajar langsung di Indonesia dan menempuh pendidikan seni di Institut Seni Indonesia Bali. Pengalaman tersebut memperkuat keterikatannya dengan budaya Bali hingga saat ini.
Diplomasi Budaya Indonesia di Panggung Internasional
Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko, Toferry Primanda Soekotjo, menilai pertunjukan Gamelan Luz y Fuerza sebagai bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia. Ia melihat antusiasme masyarakat Meksiko sebagai peluang besar untuk memperluas pengenalan budaya Indonesia di kawasan Amerika Latin.
Ia juga menyoroti bahwa kelompok ini tampil dengan kualitas yang tidak kalah dari seniman di Indonesia, meskipun sebagian besar anggotanya berasal dari Meksiko. Hal tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional Indonesia memiliki daya tarik global yang kuat.
Ke depan, kelompok ini dijadwalkan tampil di lokasi yang lebih besar di kawasan Zócalo, Mexico City. Pertunjukan tersebut diperkirakan akan menarik ribuan penonton, terutama karena bertepatan dengan momen keramaian publik.
Kesimpulan: Seni Gamelan sebagai Jembatan Budaya
Pertunjukan Gamelan Luz y Fuerza di Mexico City menunjukkan bagaimana seni tradisional dapat berfungsi sebagai jembatan antarbudaya. Musik gamelan Bali tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka ruang dialog budaya antara Indonesia dan Meksiko.
Melalui kolaborasi seniman lokal, dukungan diplomasi budaya, dan antusiasme masyarakat, gamelan Bali berhasil menemukan tempat baru di Negeri Mariachi. Fenomena ini memperkuat posisi seni tradisional Indonesia sebagai warisan budaya yang memiliki daya tarik global dan mampu hidup di berbagai belahan dunia.