Mbabar Bubur – Pergantian Tahun Baru Islam selalu menghadirkan suasana yang sarat makna bagi umat Muslim. Selain menjadi penanda dimulainya tahun hijriah yang baru, momen ini juga mengajak masyarakat untuk melakukan introspeksi diri. Di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, warga menyambut datangnya 1 Muharam melalui tradisi Mbabar Bubur Suro yang rutin digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Gribig Religi (KGR).

Tradisi tersebut telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sekitar Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gribig. Setiap menjelang Tahun Baru Islam, warga berkumpul untuk memasak bubur suro secara bersama-sama. Tidak hanya itu, mereka juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempererat hubungan sosial dan memperkuat rasa persaudaraan.

Hingga tahun 2026, Pokdarwis Kampung Gribig Religi telah melaksanakan Mbabar Bubur Suro sebanyak enam kali sejak organisasi itu berdiri. Oleh karena itu, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya lokal.

Filosofi Bubur Suro Sarat Nilai Kehidupan

Bubur suro tidak hanya berfungsi sebagai hidangan khas dalam peringatan Tahun Baru Islam. Sebaliknya, masyarakat Jawa memandang bubur suro sebagai simbol yang mengandung berbagai pesan kehidupan.

Pertama, beras putih sebagai bahan utama melambangkan kesucian hati dan awal yang bersih. Dengan demikian, masyarakat berharap dapat menjalani tahun baru dengan niat baik, pikiran jernih, serta semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain itu, tekstur bubur yang lembut menggambarkan sikap legawa dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Karena itu, tradisi ini mengajarkan pentingnya kesabaran, kemampuan menerima perbedaan, dan kesediaan untuk memaafkan sesama.

Di sisi lain, kesederhanaan bubur suro mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kemewahan semata. Justru melalui hal-hal sederhana, seseorang dapat belajar bersyukur, menghargai kebersamaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Semangat Gotong Royong Menjadi Jiwa Tradisi

Pelaksanaan Mbabar Bubur Suro selalu melibatkan partisipasi aktif warga. Sejak awal persiapan, masyarakat bekerja sama untuk menyiapkan berbagai kebutuhan acara. Misalnya, sebagian warga menyiapkan bahan makanan, sementara yang lain bertugas menghidupkan tungku dan mengaduk bubur.

Selanjutnya, warga mengolah sekitar delapan kilogram beras menjadi kurang lebih seratus porsi bubur suro. Mereka memasak bubur menggunakan tungku tradisional selama hampir satu jam. Selama proses tersebut berlangsung, suasana hangat dan penuh canda turut mewarnai kebersamaan mereka.

Adapun bahan-bahan yang digunakan tergolong sederhana. Warga hanya memerlukan beras, santan kental, daun serai, daun salam, daun jeruk, serta bumbu secukupnya. Meskipun sederhana, bahan-bahan tersebut mampu menghadirkan cita rasa khas yang selalu dinantikan masyarakat.

Lebih jauh lagi, warga menjalankan kegiatan ini secara swadaya dengan dukungan para donatur. Dengan adanya kerja sama tersebut, tradisi Mbabar Bubur Suro terus bertahan dan berkembang dari tahun ke tahun.

Mbabar Bubur Suro

Proses pembuatan bubur suro saat peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah di Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang pada Selasa (16/6/2026).

Kesederhanaan Tidak Mengurangi Makna Tradisi

Berbeda dengan pelaksanaan pada beberapa tahun sebelumnya, Pokdarwis tidak menyelenggarakan kirab budaya atau arak-arakan pada peringatan kali ini. Namun demikian, keputusan tersebut tidak mengurangi nilai dan kekhidmatan acara.

Sebaliknya, penyelenggara memilih memusatkan seluruh kegiatan di area pesarean Ki Ageng Gribig. Dengan konsep yang lebih sederhana, warga dapat lebih fokus pada kebersamaan, doa bersama, serta proses memasak bubur suro.

Sementara itu, para peziarah yang datang ke kompleks makam juga ikut merasakan suasana kekeluargaan yang tercipta. Akibatnya, interaksi antara warga dan pengunjung menjadi semakin akrab. Pada akhirnya, tradisi ini turut memperkuat citra Kampung Gribig Religi sebagai destinasi wisata budaya dan religi di Kota Malang.

Tradisi Lokal Memperkuat Identitas Budaya

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Madyopuro tetap menjaga tradisi Mbabar Bubur Suro dengan penuh kesadaran. Dengan kata lain, mereka tidak membiarkan nilai-nilai budaya hilang begitu saja.

Selain menjaga warisan leluhur, masyarakat juga menjadikan tradisi ini sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung, anak-anak dan remaja dapat memahami arti gotong royong, toleransi, serta pentingnya menjaga kerukunan.

Tak hanya masyarakat, pemerintah kelurahan pun memberikan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan ini. Oleh sebab itu, kolaborasi antara warga, Pokdarwis, tokoh masyarakat, dan pemerintah menjadi fondasi penting dalam pelestarian budaya lokal.

Momentum Introspeksi Menyambut Tahun Baru Islam

Pada akhirnya, Mbabar Bubur Suro menghadirkan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar membagikan makanan. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menyusun harapan baru untuk masa depan.

Lebih dari itu, kebersamaan yang terjalin di sekitar tungku memasak membuktikan bahwa nilai kemanusiaan tetap relevan dalam kehidupan modern. Oleh karena itu, masyarakat Kampung Gribig Religi terus menjaga tradisi ini sebagai wujud penghormatan terhadap warisan budaya sekaligus bentuk syukur dalam menyambut Tahun Baru Islam.

Dengan semangkuk bubur suro, mereka merawat persaudaraan, memperkuat identitas budaya, dan menumbuhkan optimisme untuk melangkah menuju tahun hijriah yang lebih baik.