Faktor Risiko Penyakit Jantung sering kali di kaitkan dengan obesitas atau kelebihan berat badan. Akibatnya, banyak orang yang merasa tidak perlu mengkhawatirkan kesehatan jantung selama tubuh mereka tetap langsing. Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Kondisi fisik yang terlihat ideal belum tentu mencerminkan kesehatan organ dalam maupun sistem pembuluh darah.

Dokter spesialis jantung menegaskan bahwa risiko penyakit kardiovaskular di pengaruhi oleh banyak faktor. Berat badan memang menjadi salah satu indikator kesehatan, tetapi bukan satu-satunya penentu. Seseorang yang memiliki indeks massa tubuh normal tetap dapat mengalami kolesterol tinggi, penumpukan lemak berbahaya, hingga gangguan metabolisme yang meningkatkan peluang terkena penyakit jantung.

Karena itu, menjaga berat badan saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu memahami berbagai faktor lain yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung agar dapat melakukan pencegahan sejak dini.

Faktor Genetik Dapat Memicu Kolesterol Tinggi

Risiko penyakit jantung tidak selalu muncul akibat pola hidup yang buruk. Pada sebagian orang, faktor keturunan menjadi penyebab utama meningkatnya kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL).

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa ada individu yang mengalami kelainan genetik sehingga tubuh menghasilkan kadar LDL lebih tinggi di bandingkan orang pada umumnya.

Kondisi tersebut di kenal sebagai familial hypercholesterolemia. Gangguan ini menyebabkan tubuh tidak mampu mengatur produksi maupun proses pembuangan kolesterol secara optimal. Akibatnya, kadar kolesterol tetap tinggi walaupun seseorang sudah menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memiliki berat badan yang ideal.

Inilah alasan mengapa riwayat penyakit jantung dalam keluarga tidak boleh di abaikan. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting bagi mereka yang memiliki faktor keturunan tersebut.

Teknik Memasak Turut Menentukan Kesehatan Jantung

Selain faktor genetik, kebiasaan mengolah makanan juga berpengaruh terhadap kadar kolesterol dalam darah. Banyak orang beranggapan bahwa kolesterol tinggi hanya muncul akibat makan berlebihan. Faktanya, cara memasak justru memiliki dampak yang tidak kalah besar.

Mengonsumsi makanan dalam jumlah sedikit tidak otomatis membuat kadar kolesterol tetap normal apabila makanan tersebut lebih sering di olah dengan cara di goreng atau menggunakan minyak berlebihan.

Sebaliknya, memilih metode memasak seperti mengukus, merebus, memanggang, atau menumis dengan sedikit minyak dapat membantu menjaga kualitas nutrisi sekaligus mengurangi risiko peningkatan kolesterol.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan bukan hanya jenis makanan yang di konsumsi, tetapi juga proses pengolahannya setiap hari.

Faktor Risiko Penyakit Jantung

Ilustrasi Penyakit Jantung.

Kurang Bergerak Membuat Kolesterol Sulit Terbakar

Gaya hidup yang minim aktivitas fisik menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko penyakit jantung. Seseorang memang dapat memiliki tubuh ramping karena mengonsumsi makanan dalam porsi kecil. Namun, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan metabolisme yang sehat.

Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan lemak dan kolesterol sebagai sumber energi. Ketika seseorang jarang bergerak, proses pembakaran tersebut menjadi kurang optimal sehingga kolesterol jahat lebih mudah menumpuk di dalam pembuluh darah.

Penumpukan kolesterol secara bertahap dapat memicu penyempitan pembuluh darah. Jika kondisi itu terus berlangsung, risiko serangan jantung maupun stroke akan meningkat.

Karena alasan tersebut, olahraga rutin tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau senam secara teratur mampu memberikan manfaat besar bagi sistem kardiovaskular.

Lemak Visceral Lebih Berbahaya Dibanding Berat Badan

Tidak semua lemak tubuh memberikan dampak yang sama. Salah satu jenis lemak yang perlu mendapat perhatian adalah lemak visceral, yaitu lemak yang berada di sekitar organ-organ vital seperti hati, pankreas, dan usus.

Menurut dr. Susetyo, seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh normal, tetapi tetap mengalami obesitas sentral karena penumpukan lemak visceral. Kondisi ini sering kali tidak di sadari karena bentuk tubuh masih terlihat proporsional.

Padahal, lemak visceral berhubungan erat dengan proses peradangan kronis di dalam tubuh. Selain itu, lemak ini juga berkontribusi terhadap meningkatnya kadar kolesterol jahat yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit jantung dan pembuluh darah.

Untuk masyarakat Asia, laki-laki dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter dan perempuan dengan lingkar pinggang di atas 80 sentimeter sudah termasuk kategori obesitas sentral. Karena itu, mengukur lingkar pinggang dapat memberikan gambaran yang lebih akurat di bandingkan hanya melihat angka timbangan.

Pemeriksaan Kolesterol Tetap Menjadi Langkah Terbaik

Pola hidup sehat memang berperan besar dalam menjaga kesehatan jantung. Namun, langkah tersebut sebaiknya di sertai pemeriksaan profil lipid secara berkala agar faktor risiko dapat di ketahui lebih awal.

Pedoman terbaru menyarankan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL. Selain itu, target penurunan minimal 50 persen dari kadar awal juga menjadi bagian penting dalam pengendalian risiko.

Semakin rendah kadar kolesterol jahat yang berhasil di capai, semakin kecil pula kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung, stroke, maupun komplikasi kardiovaskular lainnya.

Jangan Tunggu Gejala Muncul

Salah satu tantangan terbesar dalam pencegahan penyakit jantung adalah dislipidemia yang sering berkembang tanpa gejala. Banyak orang baru mengetahui kondisi tersebut setelah mengalami gangguan kesehatan yang serius.

Dislipidemia merupakan gangguan kadar lemak dalam darah, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan keluhan.

Karena itu, orang yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga, diabetes, hipertensi, maupun kolesterol tinggi sebaiknya menjalani pemeriksaan profil lipid secara rutin sesuai anjuran dokter.

Head of Brand and Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, menegaskan bahwa edukasi mengenai kesehatan jantung bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa tubuh langsing bukan jaminan bebas dari penyakit kardiovaskular.

Ia menyampaikan bahwa peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko, pemeriksaan rutin, dan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk menekan angka penyakit jantung di Indonesia.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan jantung memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Berat badan ideal memang penting, tetapi masyarakat juga perlu memperhatikan faktor genetik, pola makan, aktivitas fisik, distribusi lemak tubuh, serta rutin memeriksa kadar kolesterol. Dengan langkah tersebut, risiko penyakit jantung dapat di deteksi lebih awal sehingga peluang untuk mencegah komplikasi menjadi jauh lebih besar.