China Larang AI Companion menjadi langkah terbaru pemerintah China dalam menghadapi krisis demografi yang terus memburuk. Setelah selama beberapa dekade di kenal sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, kini China justru menghadapi tantangan berupa penurunan angka kelahiran dan penyusutan populasi yang terjadi secara berkelanjutan.

Mulai 15 Juli 2026, pemerintah resmi menerapkan regulasi baru yang membatasi layanan chatbot berbasis kecerdasan buatan yang di rancang untuk membangun hubungan emosional dengan manusia. Kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk ByteDance dan Alibaba, yang harus menyesuaikan layanan AI mereka agar sesuai dengan aturan terbaru.

Langkah ini di ambil karena pemerintah menilai semakin banyak generasi muda yang menjadikan AI sebagai teman dekat hingga pasangan virtual. Kondisi tersebut di khawatirkan dapat mengurangi minat masyarakat untuk menjalin hubungan nyata, menikah, dan membangun keluarga.

Penurunan Populasi Jadi Perhatian Pemerintah China

Dalam beberapa tahun terakhir, China mengalami penurunan jumlah penduduk secara berturut-turut. Tingkat kelahiran yang terus merosot menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah karena berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, hingga sistem kesejahteraan sosial pada masa mendatang.

Setelah posisi negara dengan populasi terbesar di dunia beralih kepada India, pemerintah China mulai menerapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran. Mulai dari pemberian insentif kepada keluarga, dukungan finansial bagi pasangan muda, hingga mendorong masyarakat untuk menikah lebih awal.

Namun, di tengah berbagai upaya tersebut, muncul fenomena baru yang di anggap ikut memengaruhi perubahan perilaku generasi muda, yakni meningkatnya penggunaan AI companion.

AI Companion Dinilai Mengurangi Interaksi Sosial

AI companion merupakan chatbot berbasis kecerdasan buatan yang di rancang agar mampu memberikan respons layaknya manusia. Teknologi ini dapat berperan sebagai teman berbincang, konselor, sahabat, bahkan pasangan virtual yang selalu tersedia kapan saja.

Popularitas layanan tersebut meningkat pesat di China, terutama di kalangan anak muda. Banyak pengguna merasa lebih nyaman berbicara dengan AI karena tidak mendapatkan penilaian, kritik, maupun konflik sebagaimana hubungan antarmanusia.

Sebagian pengguna memanfaatkan chatbot untuk mengurangi rasa kesepian, sementara yang lain menjadikannya tempat berbagi cerita setiap hari. Ada pula yang menciptakan karakter virtual dengan kepribadian tertentu sehingga hubungan emosional yang terbangun terasa semakin nyata.

Fenomena inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran pemerintah. Jika masyarakat lebih memilih menjalin hubungan dengan AI di bandingkan manusia, peluang terbentuknya keluarga baru di perkirakan akan semakin menurun.

Larangan AI Companion

Ilustrasi pacar AI atau pacar online, layanan ini dilarang di China mulai Juli 2026.

Aturan Baru Membatasi Hubungan Emosional dengan Chatbot

Regulasi terbaru menetapkan sejumlah pembatasan terhadap layanan AI companion di China. Salah satu poin utama adalah larangan bagi anak-anak dan remaja untuk membangun hubungan emosional dengan chatbot.

Selain itu, pengembang AI tidak di perbolehkan merancang sistem yang sengaja membuat pengguna bergantung secara emosional terhadap karakter virtual.

Seluruh layanan chatbot pendamping juga diwajibkan menjalani proses evaluasi regulator sebelum dapat di operasikan secara luas. Pemerintah bahkan memiliki kewenangan menghentikan layanan apabila di anggap berpotensi membahayakan pengguna atau melanggar ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, aturan tersebut tidak berlaku untuk chatbot yang di gunakan sebagai layanan pelanggan, bantuan teknis, maupun kebutuhan bisnis lainnya.

Doubao Jadi Layanan Pertama yang Menyesuaikan Aturan

Salah satu dampak paling nyata dari kebijakan tersebut di rasakan oleh Doubao, chatbot populer milik ByteDance.

Platform ini sebelumnya menyediakan fitur custom persona, yaitu fasilitas yang memungkinkan pengguna menciptakan karakter AI dengan latar belakang, sifat, hingga gaya berbicara sesuai keinginan.

Melalui fitur tersebut, banyak pengguna membangun hubungan jangka panjang dengan karakter virtual yang mereka ciptakan sendiri. Ada yang menjadikannya sebagai pasangan, teman dekat, mentor, hingga tempat mencurahkan berbagai persoalan pribadi.

Setelah aturan baru mulai berlaku, fitur tersebut di nonaktifkan sehingga berbagai karakter yang telah di buat pengguna tidak lagi dapat di gunakan seperti sebelumnya.

Perubahan mendadak itu memicu beragam reaksi di media sosial. Sebagian pengguna mengaku kecewa karena kehilangan karakter yang telah mereka bangun selama berbulan-bulan. Bahkan, tidak sedikit yang menyamakan pengalaman tersebut dengan kehilangan sahabat atau pasangan.

Regulasi Dinilai Lebih Fleksibel dari Rancangan Awal

Meski terlihat cukup ketat, sejumlah pengamat menilai regulasi yang akhirnya di terapkan pemerintah sebenarnya lebih ringan di bandingkan rancangan awal yang sempat di publikasikan sebelumnya.

Beberapa pembatasan yang semula di usulkan akhirnya di longgarkan setelah mempertimbangkan masukan dari pelaku industri teknologi. Langkah ini di nilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan perkembangan industri kecerdasan buatan yang tengah berkembang pesat di China.