Nyiar Lumar 2026 – Suasana pusat Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, berubah semarak pada Sabtu malam, 5 September 2026. Masyarakat dari berbagai kelompok usia mulai berdatangan ke kawasan eks Pendopo Kawali sejak sore untuk mengikuti rangkaian Nyiar Lumar 2026.

Agenda budaya yang berlangsung setiap dua tahun tersebut kembali menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat. Berbagai pertunjukan seni mengiringi rangkaian kegiatan, sementara peserta juga mengikuti perjalanan dari pusat Kawali menuju kawasan bersejarah Situs Astana Gede.

Nyiar Lumar telah menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakat Kawali. Para seniman dan budayawan setempat merintis tradisi ini pada 1998. Seiring perkembangannya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga membawa pesan mengenai hubungan manusia dengan kehidupan, alam, sejarah, dan kebudayaan.

Filosofi Nyiar Lumar dan Pencarian Cahaya Kehidupan

Dalam bahasa Sunda, kata “nyiar” memiliki arti mencari. Sementara itu, “lumar” merujuk pada jamur yang dapat memancarkan cahaya. Perpaduan kedua kata tersebut kemudian berkembang menjadi simbol perjalanan manusia dalam menemukan cahaya atau pencerahan dalam kehidupan.

Filosofi itulah yang menjadi salah satu dasar penyelenggaraan Nyiar Lumar. Melalui perjalanan malam, peserta diajak untuk membangun kedekatan dengan alam sekaligus menelusuri kembali jejak sejarah dan identitas budaya Sunda.

Kawali memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah wilayah tersebut. Keberadaan Situs Astana Gede menjadi salah satu peninggalan yang berkaitan dengan masa Kerajaan Sunda Galuh. Oleh karena itu, perjalanan menuju kawasan situs menjadi unsur penting dalam pelaksanaan Nyiar Lumar.

Pada 2026, panitia membagi rangkaian acara ke dalam beberapa tahapan utama, yakni Mitembeyan, Ngawalan, Lalampahan, dan Magelaran.

Pertunjukan Seni Mengawali Nyiar Lumar 2026

Rangkaian Mitembeyan berlangsung di halaman Kantor Kecamatan Kawali. Panitia menghadirkan suasana santai untuk menyambut tamu sekaligus mempererat interaksi antarpeserta.

Menjelang malam, Dangiang Surawisesa dari SMKN 1 Kawali menghadirkan alunan musik tradisional Sunda. Sejumlah kelompok seni lokal juga ikut meramaikan kegiatan, seperti Galuh Sekaraya, Ferisa, Tanes Gonjreng, serta Teater Jagat Divisi Tari.

Sekitar pukul 19.30 WIB, acara memasuki tahap Ngawalan. Tari Badaya Wiragasukma membuka rangkaian pertunjukan malam. Setelah itu, Saung Seni Pacikrak bersama para siswi SDN 1 Kawali membawakan Pupuh Gurisa Nyiar Lumar.

Budayawan Pandu Radea kemudian mengajak pengunjung mengenal perjalanan sejarah Kawali dan Nyiar Lumar melalui sesi Guar Carita. Rangkaian pembukaan juga menghadirkan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya turut menghadiri kegiatan tersebut. Ia menilai Nyiar Lumar memiliki hubungan erat dengan nilai budaya sekaligus sejarah masyarakat Kawali.

Menurut Herdiat, filosofi Nyiar Lumar jauh melampaui arti harfiahnya sebagai kegiatan mencari jamur bercahaya. Tradisi tersebut menggambarkan perjalanan kontemplatif manusia dalam mencari cahaya kehidupan. Selain itu, kegiatan ini mengajak masyarakat kembali mengenali lingkungan, perjalanan sejarah, dan akar kebudayaan Sunda.

Tradisi Nyiar Lumar 2026

Meriahnya Nyiar Lumar di Kawali Ciamis.

Lalampahan Menuju Situs Astana Gede

Setelah rangkaian pembukaan selesai, peserta memulai Lalampahan dengan berjalan kaki menuju Situs Astana Gede. Obor dan pataka mengiringi rombongan sepanjang perjalanan.

Suasana malam memberikan karakter tersendiri pada prosesi tersebut. Peserta menyusuri kawasan permukiman dengan cahaya bulan dan suara alam malam sebagai latar perjalanan menuju situs bersejarah.

Konsep tersebut membuat masyarakat tidak hanya menyaksikan pertunjukan sebagai penonton. Sebaliknya, mereka ikut menjadi bagian dari pengalaman budaya melalui perjalanan langsung menuju Astana Gede.

Setibanya di kompleks situs, peserta memasuki rangkaian Magelaran. Genjring Ronyok Banjarwaru Kawali membuka penyambutan melalui pertunjukan Genjring Tepak Lima.

Selanjutnya, Studio Titikdua Ciamis menghadirkan komposisi tari Nyiar Lumar di Gerbang Kulon. Di kawasan Rungkun Haur, Sanggar Kawalian berkolaborasi dengan ekstrakurikuler musik SMAN 1 Kawali untuk menyajikan pembacaan sajak.

Seni, Sastra, dan Sejarah Warnai Perjalanan Malam

Pertunjukan terus berlangsung di sejumlah titik yang dilewati peserta. Sanggar Lingga Purbasari Kabupaten Ciamis tampil di Paris 1. Pada lokasi yang sama, Teater Tangtu Tilu UNIGAL Ciamis, Teater Pijar Ciamis, serta Jaro X Yus berkolaborasi membawakan sajak “Surat keur Aki Caraka”.

Sementara itu, Komunitas Cermin Kota Tasikmalaya mengisi pertunjukan di Lapak Mahoni. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Paris 2.

Di lokasi tersebut, Teater Jagat SMAN 1 Kawali menghadirkan dramatisasi puisi bertema Tragedi Bubat melalui “Sajak Kawalian 2 (Citraresmi)” karya Godi Suwarna. Berbagai ekspresi sastra dan musikalisasi puisi dari peserta lain turut memperkaya rangkaian pertunjukan.

Pesangrahan Cikawali menjadi lokasi puncak Nyiar Lumar 2026. Teater SASADU menampilkan pertunjukan kolosal dengan cerita yang mengangkat Perang Bubat. Maestro Bi Raspi kemudian menghadirkan Ronggeng Gunung.

Penampilan tersebut membawa suasana semakin akrab. Masyarakat dan para tamu ikut menari bersama hingga rangkaian kebersamaan berlanjut menjelang pagi.

Nyiar Lumar Didorong Menjadi Wisata Budaya Ciamis

Pemerintah Kabupaten Ciamis memandang Nyiar Lumar sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan daerah. Herdiat menyebut langkah tersebut sejalan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 9 Tahun 2025 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah.

Peraturan tersebut menjadi tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Melalui kebijakan itu, pemerintah daerah berupaya memberikan ruang bagi perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan secara berkelanjutan.

Herdiat juga memberikan apresiasi kepada panitia, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang berpartisipasi dalam Nyiar Lumar 2026.

Menurutnya, tradisi ini memiliki peluang berkembang lebih jauh sebagai salah satu daya tarik wisata budaya Kabupaten Ciamis. Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian sejarah dan kebudayaan, tetapi juga membuka manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat setempat.

Kehadiran peserta dari berbagai daerah turut menunjukkan bahwa Nyiar Lumar memiliki daya tarik di luar masyarakat Kawali. Melalui pertunjukan seni, perjalanan sejarah, dan keterlibatan masyarakat, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Ciamis kepada khalayak yang lebih luas.

Di sisi lain, keberlanjutan tradisi membutuhkan keterlibatan generasi muda. Pemerintah daerah pun mendorong anak muda untuk mengenal, menjaga, dan meneruskan Nyiar Lumar agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

Dengan perjalanan malam menuju Astana Gede sebagai ciri khasnya, Nyiar Lumar 2026 tidak sekadar menghadirkan panggung kesenian. Tradisi tersebut kembali menjadi ruang untuk mengenali sejarah, memperkuat kebersamaan, serta menjaga identitas budaya Kawali agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.