SorotanKini24.com – Perjuangan melawan penyakit berat tidak selalu berakhir dengan keterbatasan. Kisah Mutiara Dayuanti menjadi bukti bahwa tekad yang kuat, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan kesehatan mampu membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Meski harus menghadapi tumor tulang belakang hingga kehilangan kemampuan berjalan, ia tetap mampu menyelesaikan pendidikan tinggi, meraih status sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), dan mengabdikan diri untuk membantu penyandang disabilitas.

Perjalanan panjang yang di jalaninya di penuhi berbagai tantangan, mulai dari proses operasi, rehabilitasi bertahun-tahun, hingga perjuangan untuk tetap produktif. Berkat semangat yang tidak pernah padam, Mutiara berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya.

Awal Mula Penyakit yang Mengubah Kehidupan

Gangguan kesehatan Mutiara mulai terasa ketika masih duduk di bangku kelas IX SMP. Saat itu ia menyadari kakinya mulai sulit di gunakan untuk berlari. Awalnya, kondisi tersebut di anggap sebagai masalah otot biasa. Namun, keluarganya kemudian menemukan benjolan di bagian punggung yang ternyata merupakan osteokondroma, yaitu tumor tulang jinak yang tumbuh di area tulang belakang.

Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, dokter memutuskan bahwa operasi menjadi langkah terbaik. Pada tahun 2012, Mutiara menjalani tindakan pengangkatan tumor di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Biaya operasi saat itu ditanggung bersama oleh keluarga besar karena mereka belum memiliki perlindungan jaminan kesehatan.

Operasi pertama berjalan dengan baik sehingga Mutiara dapat kembali melanjutkan pendidikan. Ia bahkan berhasil diterima di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dan menjalani aktivitas kuliah seperti mahasiswa lainnya.

Tumor Kembali Muncul Saat Menempuh Pendidikan Tinggi

Harapan yang sempat muncul ternyata tidak berlangsung lama. Ketika memasuki semester enam perkuliahan pada 2018, benjolan di punggungnya kembali tumbuh. Bahkan ukurannya semakin besar hingga menyebabkan perubahan bentuk pada punggungnya.

Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi semakin berat. Di sisi lain, keluarganya kembali di hadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Saat itu kedua orang tuanya hanya mengandalkan usaha laundry rumahan sebagai sumber penghasilan keluarga.

Beruntung, atas saran kerabat, keluarga Mutiara kemudian mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan. Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan pengobatan karena memberikan akses terhadap layanan medis yang dibutuhkan.

Operasi Kedua dan Perjuangan Menyelesaikan Kuliah

Melalui sistem pelayanan berjenjang Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Mutiara memperoleh penanganan dari dokter spesialis bedah saraf. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tumor harus segera di angkat agar tidak semakin menekan saraf di tulang belakang.

Meski demikian, Mutiara sempat meminta penundaan operasi karena ingin menyelesaikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) serta skripsinya. Keputusan tersebut menjadi masa yang penuh kecemasan bagi keluarganya karena kondisi kesehatannya terus mengalami penurunan.

Setelah KKN selesai, operasi kedua akhirnya dilakukan pada tahun 2019. Tumor berhasil di angkat, tetapi tekanan pada saraf yang berlangsung cukup lama menyebabkan kedua kakinya kehilangan fungsi sehingga ia harus menggunakan kursi roda.

Walaupun menghadapi kenyataan yang berat, Mutiara memilih untuk tetap melanjutkan pendidikannya. Dengan bantuan keluarga dan dosen, ia tetap menyelesaikan skripsi hingga berhasil meraih gelar Sarjana Psikologi pada tahun 2021 dengan indeks prestasi kumulatif yang membanggakan.

Mutiara Dayuanti menggunakan kursi roda saat berangkat bekerja sebagai ASN setelah menjalani operasi tumor tulang belakang dan rehabilitasi jangka panjang.

Mutiara Dayuanti tengah memberikan penyuluhan, mendorong kemandirian dan peningkatan kualitas hidup penyandang disabilitas serta keluarganya.

Menjadi ASN dan Mengabdi untuk Penyandang Disabilitas

Setelah menyelesaikan pendidikan, Mutiara mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) melalui jalur disabilitas. Kesabarannya membuahkan hasil ketika ia di nyatakan lolos dan resmi bergabung sebagai ASN di Dinas Sosial Kota Semarang.

Status tersebut menjadi babak baru dalam hidupnya. Bersama sang ibu, ia berusaha menyesuaikan kehidupan sehari-hari agar tetap dapat bekerja secara mandiri. Untuk mempermudah mobilitas, keluarga memutuskan memiliki kendaraan yang di gunakan setiap hari untuk mengantar Mutiara menuju kantor.

Kini Mutiara di percaya menjadi ketua tim pada bidang Rehabilitasi Sosial. Dalam tugasnya, ia memberikan pendampingan kepada penyandang disabilitas melalui berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, pelatihan, penyaluran bantuan, hingga memberikan motivasi agar mereka mampu bangkit dan menjalani hidup secara mandiri.

Pengalaman pribadinya membuat Mutiara mampu memahami kondisi para penyandang disabilitas dengan lebih baik. Oleh karena itu, kehadirannya tidak hanya sebagai aparatur negara, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan inspirasi.

Rehabilitasi Menjadi Bagian Penting Proses Pemulihan

Setelah operasi kedua selesai dilakukan, perjuangan Mutiara belum berakhir. Ia masih harus menjalani rehabilitasi medik berupa fisioterapi secara rutin selama hampir empat tahun.

Setiap pekan, ia menjalani terapi untuk melatih kembali fungsi kedua kakinya yang mengalami gangguan akibat saraf yang lama tertekan tumor. Berkat latihan yang dilakukan secara konsisten, perlahan rasa kebas mulai berkurang meski kemampuan berdiri dan berjalan masih belum pulih sepenuhnya.

Dokter spesialis bedah saraf menjelaskan bahwa osteokondroma sebenarnya merupakan tumor jinak. Namun, apabila tumbuh di area tulang belakang, tumor dapat memberikan tekanan pada sumsum tulang belakang maupun akar saraf sehingga memengaruhi fungsi gerak tubuh.

Karena itu, tindakan operasi bertujuan menghilangkan tekanan tersebut. Sementara itu, rehabilitasi medik menjadi proses lanjutan yang sangat penting untuk membantu pemulihan fungsi saraf secara bertahap.

Dukungan Program JKN Membantu Kelangsungan Pengobatan

Keberhasilan proses pemulihan Mutiara tidak lepas dari dukungan Program Jaminan Kesehatan Nasional. Seluruh proses pengobatan, mulai dari operasi hingga fisioterapi yang di jalani selama bertahun-tahun, mendapatkan jaminan sesuai dengan indikasi medis.

Program tersebut memungkinkan pasien memperoleh layanan rehabilitasi sesuai hasil evaluasi dokter. Selama pasien masih membutuhkan terapi medis untuk mendukung proses pemulihan, layanan fisioterapi tetap dapat di berikan.

Bagi Mutiara, keberlanjutan rehabilitasi menjadi kesempatan besar untuk terus meningkatkan kondisi fisiknya sehingga tetap mampu menjalankan aktivitas pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.

Semangat yang Menginspirasi Banyak Orang

Perjalanan Mutiara tidak hanya memberikan kebahagiaan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sahabat serta rekan kerja. Mereka melihat bagaimana perempuan tersebut tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh dedikasi meski menggunakan kursi roda.

Di lingkungan kerja, Mutiara di kenal aktif memimpin tim, sabar dalam melayani masyarakat, serta mampu memahami kebutuhan penyandang disabilitas yang menjadi tanggung jawabnya. Semangatnya menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak mengurangi kualitas pengabdian maupun profesionalisme dalam bekerja.

Kisah Mutiara menjadi bukti bahwa keberanian untuk bangkit, dukungan keluarga, akses layanan kesehatan, dan kesempatan yang setara mampu mengubah kehidupan seseorang. Meski proses pemulihan masih terus berlangsung, ia tetap melangkah dengan optimisme, memberikan harapan bagi banyak orang yang sedang menghadapi perjuangan serupa.