Gempa Susulan Di NTT – tercatat telah mencapai 1.576 kejadian berdasarkan perkembangan terbaru yang di himpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah kini terus memperkuat operasi darurat di sejumlah wilayah terdampak, mulai dari layanan kesehatan hingga distribusi bantuan.
Informasi mengenai perkembangan tersebut di sampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, pada Senin (17/8/2026).
BNPB masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas kegempaan yang berlangsung di Nusa Tenggara Timur. Data terbaru menunjukkan sebagian besar gempa lanjutan memiliki kekuatan kecil sehingga tidak di rasakan masyarakat.
Dari rangkaian tersebut, BNPB mencatat adanya aktivitas gempa dengan magnitudo 6,2. Selain itu, terdapat tiga kejadian lain dengan kekuatan lebih rendah. Sementara itu, jumlah getaran yang tidak di rasakan mencapai lebih dari 1.500 kejadian.
Data tersebut masih dapat berubah seiring berlangsungnya pemantauan. Karena itu, BNPB akan terus memperbarui informasi berdasarkan perkembangan terbaru yang diperoleh dari wilayah terdampak.
Operasi Penanganan Menjangkau Tujuh Kabupaten
Selain mengawasi aktivitas gempa, pemerintah memusatkan perhatian pada keselamatan dan kebutuhan masyarakat. Personel pencarian dan pertolongan telah disiagakan untuk memperkuat respons darurat.
Basarnas menempatkan tim di tujuh kabupaten yang terdampak. Daerah tersebut terdiri atas Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, serta Ngada.
Penyebaran personel ke beberapa kabupaten dilakukan agar proses pertolongan dapat berlangsung lebih cepat. Kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak wilayah terpisah juga membuat penanganan membutuhkan koordinasi dan dukungan transportasi yang memadai.
Petugas di lapangan terus bekerja bersama berbagai instansi. Mereka menangani kebutuhan masyarakat sesuai kondisi yang di temukan di setiap wilayah.
Fasilitas Kesehatan Darurat Disiapkan
Pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam operasi penanganan gempa. Kementerian Kesehatan telah menyediakan dua rumah sakit lapangan untuk membantu fasilitas medis yang terdampak.
Salah satu rumah sakit lapangan berada di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Fasilitas lainnya di siapkan di Kabupaten Nagekeo.
Rumah sakit lapangan tersebut di harapkan mampu menjadi alternatif pelayanan bagi warga yang memerlukan penanganan medis. Fasilitas sementara juga membantu menjaga layanan kesehatan ketika rumah sakit atau puskesmas setempat mengalami gangguan akibat gempa.
Selain menyediakan fasilitas, Kementerian Kesehatan menempatkan dua tim khusus untuk menangani manajemen krisis kesehatan. Tim pertama bertugas di Kabupaten Sikka. Sementara itu, tim lainnya di tempatkan di Kabupaten Ende.
Kedua tim memiliki peran dalam memperkuat koordinasi pelayanan kesehatan selama kondisi darurat. Langkah tersebut di perlukan agar kebutuhan tenaga medis, fasilitas, serta pelayanan bagi korban dapat di kelola secara terarah.

Sebuah sepeda motor berhenti di dekat bangunan yang runtuh pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Borong, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu, 16 Agustus 2026.
Tim Medis Darurat Dikerahkan
Dukungan kesehatan juga di perkuat melalui pengerahan Emergency Medical Team. Pemerintah membagi tim tersebut berdasarkan kebutuhan sejumlah wilayah terdampak.
Tim pertama menangani wilayah Ende, Nagekeo, dan Manggarai Barat. Adapun tim kedua memusatkan operasinya di Kabupaten Sikka.
Pembagian wilayah kerja di harapkan membuat bantuan medis lebih mudah menjangkau masyarakat. Tim dapat menyesuaikan pelayanan berdasarkan kondisi dan tingkat kebutuhan masing-masing daerah.
Kementerian Kesehatan juga mengaktifkan Health Emergency Operation Center atau HEOC. Pusat operasi kesehatan darurat tersebut di siapkan untuk mendukung koordinasi selama penanganan krisis.
Secara keseluruhan, HEOC tersedia pada sembilan lokasi strategis. Delapan titik berada di tingkat kabupaten atau kota terdampak. Keberadaan pusat operasi tersebut membantu memperlancar koordinasi informasi dan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Ribuan Personel Gabungan Terjun ke Lapangan
Penanganan bencana tidak hanya melibatkan BNPB, Basarnas, dan tenaga kesehatan. TNI serta Polri juga bergabung bersama unsur pemerintah lainnya untuk mempercepat operasi darurat.
BNPB mencatat sedikitnya 1.467 personel gabungan telah di kerahkan. Mereka menjalankan berbagai tugas sesuai kebutuhan yang muncul di daerah terdampak.
Personel gabungan membantu proses pertolongan, mendukung mobilitas bantuan, serta menangani berbagai kebutuhan darurat masyarakat. Koordinasi antarlembaga terus di perkuat agar pengerahan sumber daya dapat berlangsung secara efektif.
Keterlibatan banyak unsur menjadi penting mengingat dampak bencana tersebar di sejumlah kabupaten. Setiap daerah juga memiliki tantangan berbeda, baik dari sisi akses maupun kondisi fasilitas publik.
Sepuluh Armada Mendukung Penyaluran Bantuan
Pemerintah turut menyiapkan sarana transportasi untuk mendukung operasi lapangan. Sebanyak 10 unit alutsista dan armada udara di gunakan dalam penanganan dampak gempa.
Armada tersebut berfungsi mempercepat pergerakan bantuan menuju daerah yang membutuhkan. Selain itu, dukungan udara sangat berguna untuk mencapai kawasan yang mengalami hambatan akses melalui jalur darat.
Lima unit di tempatkan di kawasan Labuan Bajo. Kemudian, lima unit lainnya berada di Maumere. Pembagian ini dilakukan untuk mendukung jangkauan operasi di wilayah terdampak.
Pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai sumber daya selama masa penanganan darurat. Fokus utama tetap di arahkan pada keselamatan masyarakat, pelayanan kesehatan, kelancaran bantuan, dan pemenuhan kebutuhan dasar.
BNPB berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, tenaga kesehatan, petugas penyelamatan, serta berbagai unsur lainnya mampu mempercepat penanganan dampak gempa di NTT. Pemerintah juga mengajak masyarakat mengikuti informasi resmi dan mendukung upaya pemulihan di wilayah terdampak.